SUARA PARA SETAN
SUARA PARA SETAN
karya : Mazroatul Akhiroh
Scene 1
Seorang gadis dengan tubuh indah dan tatapan tajam mencari suatu kebenaran sembari
berjalan dengan tubuh tertatih-tatih dengan obor ditangannya.
Menik: Selamat datang para setan yang terhormat, sebelum aku memulai semuanya izinkan
aku mengatakan keresahan yang terjadi di panggung saat ini. Bukan hanya di tempat asusila,
birokrasi, ataupun panti jompo, banyak orang-orang bergosip tentang kehidupan kami. Sudah
satu dasawarsa aku terbelenggu dan tercekik oleh bayang-bayang masa lalu, perempuan kerap
dicap sebagai makhluk yang mengumbar nafsu, seolah dunia sepakat menaruh aib di tubuh dan
nama kami.
Pada kehidupan sebelumnya, aku tidak cukup baik membimbing tubuh ini, saat tubuh
ditelanjangi dunia, alih-alih menjadi baik malah menjadi-jadi. Maka saksikanlah.
Scene 2
Tiba-tiba seorang gadis setengah paru baya tertawa .
Wulan: Hahahaha .... Sudahlah menik yang terjadi biarlah terjadi hidup itu untuk dijalani bukan untuk disesali, lihat orang-orang diluar sana hidupnya tidak seberuntung kita. Banyak orang tergeletak di jalan seperti pengemis yang tidak tau aturan. Kita masih beruntung, masih bisa makan dan punya tempat tinggal, lagipula hidup kita sudah enak disini.
Menik: Kamu tidak akan mengerti apa yang aku rasakan, mbak. Kita tidak bisa menutup mata tentang fakta bahwa dibalik keberuntungan ini, kita hina dimata semua orang.
Wulan: Persetanan dengan semua itu, jika kita bergantung pada omongan orang lain, maka tidak akan ada ujungnya. Simpan kesedihanmu itu menik sebelum yang lain tahu, kita disini juga punya kesedihan yang sama jadi kamu jangan merasa paling sakit sendiri.
Menik: Sikap seperti ini yang tidak aku suka dari kalian, kalian menghakimi kesedihanku bahkan menamparku dengan kata-kata hinaan.
Wulan: Kamu begitu larut dalam kesedihan, Menik. Harusnya kamu mampu melihat dunia dari sisi berbeda. Hidup bukan tentang masalah saja jika kita bisa menikmati keberuntungan tanpa mendengar kata orang.
Menik: Jangan terlalu naif, mbak, aku bisa mengurus diriku sendiri, kamu tidak perlu repot repot menasehatiku.
Wulan: Naif? begitu gampang kata-kata itu keluar dari mulutmu menik, kamu selalu seenaknya sendiri. Aku tidak mau kamu terbunuh secara perlahan, aku peringatkan sekali lagi, jangan menjadi orang bodoh menik.
Menik: Aku bukan perempuan lemah mbak dan aku tidak mau di lemahkan oleh omangan busukmu, bertahun-tahun aku menahan mulut ini agar tidak bicara karena bicara berarti bencana bagi hidupku. Bertahun-tahun pula aku lipat lidah ini dan mendengar hinaan tentang keberuntungan yang kamu maksud. Aku sudah muak hidup seperti ini mbak.
Wulan: Aku juga sudah muak dengan segala tetek bengek kehidupan, jadi kamu jangan pernah merasa paling sakit sendiri, hanya dengan hidup seperti ini kita bisa bebas dari jurang kemiskinan. Aku tahu dari perkerjaan kotor, kita tidak hanya dihakimi oleh omongan orang tetapi waktu juga akan menghakimi. Sudahlah menik, aku malas berdebat denganmu lebih baik aku melayani pejabat kaya daripada berdebat denganmu tidak pernah dapat apa-apa. Jika tante Rita melihat keadaanmu saat ini bukankah kamu akan merasa bersalah kepadanya?
Menik: Aku mengakui bertahan di tempat hina ini karena Tante Rita tetapi penghuni rumah ini tidak akan pernah mengerti aku termasuk dirimu! Pergi, aku tidak membutuhkan penghakiman di balik kata kata bijak itu. Malam itu, hanya tante Rita yang menyulurkan tangan saat dunia tidak berpihak kepadaku, ”Dunia akan terus menguji dengan beragam masalah, jika kita hanya diam maka yang tersisa hanyalah angan-angan” ucapan tante Rita yang bergema didalam benakku. Inilah kisahku yang harus menghabiskan sisa hidup untuk memanjakan nafsu para bajingan. Laki-laki yang mengantarkanku pada penderitaan yang sama. Tiba-Tiba seorang wanita berhijab datang sambil teriak dengan membawa peralatan dapur.
Tante Rita: Pengumuman, pengumuman, Pengumuman, Pengumuman, Pengumumannnnnn Inpone massehh, ada inpo terbaru, harga pelacur tahun 2020 dibandrol mahal. Gasken massehh.
Tante Rita: Menik, Kamu kenapa lagi menik sudahlah jangan berfikir yang macam-macam, jangan melamun terus, lebih baik kamu terima tawaran dari pak bambang jika kamu menyibukkan diri mungkin kamu akan melupakan masalahmu, ini, jangan lupa dimakan ya biar kamu tidak sakit lagi.
Menik: Terimakasih tante, aku tidak mengerti apakah aku terus-terusan harus seperti ini? Aku tahu dengan perkerjaan ini aku dapat bertahan hidup, makan makanan enak, baju bagus dan bermerk tetapi aku selalu merasa tidak puas dengan semua itu, aku ingin hidupku normal tante.
Tante Rita: Aku juga tidak mau hidup seperti ini menik, Aku bukan lagi pelacur sekarang, aku hanya seorang yang membantu siapapun yang sedang putus asa dengan kehidupanya, tubuh ku sudah tidak laku, tidak ada hal lain yang bisa aku kerjakan kecuali ini. Kamu cantik dan kamu terlihat manis, kamu mudah mendapatkan tambahan uang, Menik.
Menik: Tante pasti paham betul, bukankah ini bertentangan dengan norma manusia? Jika suatu hari kita semua tertangkap apakah kita masih bisa hidup tenang seperti yang diucapkan tante kepadaku?
Tante Rita: Tidak usah khawatir memikirkan hari esok, jika hari ini saja kita hanya bisa mengeluh. Yolanda: Berisik sekali, apa yang kalian lakukan disini?
Tante Rita: suttttt Yolanda: Menik lagi Menik lagi dimana-mana ada menik, sudahlah tante jangan terlalu di urusi orang seperti itu kita bisa capek sendiri mending kita fokus pada diri masing-masing kalo ngurusi menik terus lama-lama gak makan kita.
Tante Rita: Jangan seperti itu, tante paham betul kalian berasal dari latar belakang yang berbeda beda tetapi jika sudah disini kalian sama.
Yolanda: hmm ... Arek iki lapo maneh seh?
Menik berdiri dengan langkah tertatih-tatih menghampiri Yolanda
Menik: bapakku meninggal semenjak aku dalam kandungan, dan ibuku entah dimana, sejak kecil aku di rawat oleh nenek yang sebatang kara dan terlilit utang, lalu aku di jodohkan paksa oleh nenek dengan laki-laki parubaya. Pada saat itu umurku 19 tahun tapi aku tidak mau lalu aku memutuskan kabur dari rumah, aku lontang-lantung dijalan lalu ada supir truk menawariku tumpangan yang aku kira orang itu ikhlas menolongku ternyata itu hanya akal-akal saja (sambil menangis ) ketika berada di jalan sepi laki-laki itu melancarkan rencananya laki-laki itu merobek bajuku menampar bahkan memperkosaku berkali-kali, pupus sudah kesucianku, pada akhirnya laki-laki bangsat itu meninggalkanku sendirian dijalan, seolah dua lembar seratus ribuan cukup untuk menggantikan segalanya.
Tante Rita: Tidak hanya kamu yang punya kisah kelam menik, pada hari itu aku adalah seorang istri yang sangat taat pada suamiku. kami juga di karuniai seorang anak perempuan yang sangat cerdas, hingga tragedi itu terjadi, anak kami tiba-tiba gantung diri dikamar, hingga saat ini penyebabnya masih belum diketahui, pada akhirnya kami resmi bercerai.
Yolanda: Masalalu hanya sebuah cerita sejarah yang tidak akan bisa kita ulang kembali, menceritakan hal itu tidak akan menguntungkan bagi kita. Berhenti mengeluh dan berfikirlah secara jernih, hidup tidak akan berubah jika diam.
Tante Rita: Memang benar, biarlah itu jadi rahasia kita masing-masing
Yolanda: Dan kamu menik jangan pernah mengumbar-ngumbar kesedihanmu disini dengar
itu, pekerjaan kita sekarang adalah pilihan kita sendiri tidak perlu repot repot menyalahkan dan
mencari siapa yang salah, hidup kita adalah pilihan bukan takdir buatan tuhan.
Menik: Memangnya apa yang salah jika aku menceritakan semua ini? pikiranmu hanya uang
dan uang tidak lebih dari itu. kita ini bukan alat, kita berhak hidup lebih baik dari keadaan
seperti ini. dengarkan itu, kalian selalu membanggakan perkerjaan hina ini tanpa pernah mau
memikirkan masa depan yang lebih tenang.
Yolanda: Jaga omonganmu menik, Coba carilah perkerjaan yang kamu maksud! memangnya
kenapa kalau aku mementingkan uang daripada hidupmu yang menyusahkan orang. Kenapa
diam?! Benar bukan ucapanku? Perkerjaan ini yang memberi kita makan tak sepatutnya kamu
menjelek-jelekkan pekerjaan kami!
Tante Rita : Berhenti ribut-ribut, setiap hari aku harus melihat pertikaian seperti ini
Wulan: Aku pulang, kenapa semua orang beramai ramai ada disini? Ada apa ini mbak Rita?
Yolanda : Seperti biasa menik dan kesedihannya, dia pikir hanya dia yang memiliki latar
belakang menyedihkan! Kamu tahu sendiri kehidupanku seperti apa mbak tetapi aku tidak
pernah koar koar merasa tersakiti, aku memendam semuanya.
Wulan : Anak itu lagi? Lebih baik aku bersenang senang diluar, disini panas sekali.
Menik : Perkerjaan ini tidak sesui dengan norma masyarakat, bagaimana jika suatu hari nanti
malapetaka menghampiri kita, tidak ada yang tahu masa depan!
Yolanda: Mengapa kita harus pusing memikirkan masa depan? Menik bersenang senanglah
dengan kehidupan saat ini. Nikmati masa muda dengan keberuntungan yang orang orang tidak
memilikinya.
Menik : Lihat saja dan teruslah bangga dengan uang yang kamu dapatkan itu, aku tidak bisa
seperti ini terus terusan! Aku bisa mendapatkan barang yang aku inginkan dulu tapi aku tetap
menderita, tubuhku bergantian digerayangi banyak pria dan semua itu kamu sebut sebagai
keberuntungan, Yolanda?
Yolanda : Menik ... Menik, Kenapa aku harus tidak bangga dengan perkerjaan yang kamu
hina? Aku lahir dari tempat ini, aku berkembang dari bayi sampai sekarang disini! Aku tidak
pernah kedinginan dimalam hari, bingung tempat tinggal, dan bajuku selalu bagus, aku 12
tahun di sekolahkan! Suapan pertamaku dari pelacur dari tempat kamu hina.
Menik : Bukan seperti itu maksudku! Kalian tidak paham apa yang aku katakan sejak tadi,
kalian hanya bisa menyudutkanku! Apakah aku salah jika ingin hidup lebih baik?
Yolanda : Menik, lepas dari perkerjaan ini sempet terbenam dalam pikiranku, kamu fikir aku
yang sudah 12 tahun sekolah tidak ingin lanjut ke jenjang perkulihan? Aku sangat
menginginkannya ... Sangat! Tapi ibu yang menghidupiku dengan hasil dia menjadi pelacur,
justru meninggalku seorang diri didunia ini tepat setelah kelulusanku, mengapa dia harus pergi
ke neraka begitu cepat hingga aku dipaksa merasakan neraka itu sendirian didunia ini.
Menik : Jika kamu juga tersiksa kenapa harus memeluk erat perkerjaan ini? Aku sering
bertanya tanya tentang ini semua, kenapa aku masih bertahan di tempat mengerikan ini! Serasa
memeluk duri jika masih bertahan.
Yolanda : Menik aku besar disini, aku banyak bertemu orang dengan pakaian suci tetapi dibalik
itu dia kotor, aku juga bertemu dengan orang yang berpakaian kurang bahan dia menjadi
penolongku. Jadi tidak ada perkerjaan hina hanya saja manusia membuat aturan sendiri dan
menyebutnya norma.
Menik : Kamu sadar dengan omonganmu, Yolanda? Tentu saja kita punya aturan jika tidak
kita sama saja dengan hewan, hewan saja memiliki hukum alam, dan aku paham betul manusia
memiliki aturan tetapi hanya perlu menunggu waktu kapan kita akan mendapatkan
pembalasan!
Yolanda : Kamu pikir aku sedang tidak lagi dihukum karena kesalahan orang tuaku? Aku lahir
tanpa tahu yang mana ayahku karena ibuku adalah seorang pelacur, Menik!
Bunyi sirine polisi terdengar, tiba-tiba wulan datang dengan tergesa-gesa
Wulan : Yolanda! Mbak Rita! Tamat sudah! Kita harus bergegas pergi! Ayo berkemas! Cepat
... cepat ... cepat! Polisi sudah mengepung tempat ini, aku tidak tahu siapa yang melaporkan
tempat ini!
Tante Rita: Apa? Tidak perlu berkemas selamatkan diri terlebih dahulu, ayo bergegas pergi!
Yolanda: Siapa yang melaporkan tempat ini
Menik mulai bingung semua orang berlalu lalang menyelamat diri, apakah dia juga akan
tertangkap?
Scene 3
Semua orang pergi tersisa menik yang tersungkur, lampu menyoroti menik saja.
Menik: HAHAHAHHAHAHAHAHHAHAAHAHAHAAAH
Izinkan aku menyampaikan fakta penderitaan kami, para penghuni rumah itu telah kuarahkan
menuju surga atas nama belas kasihan, aku Menik, orang yang melaporkan tempat hina itu.
Aku muak dengan mereka semua, salah satu dari mereka membabi buta atas pertumbuhan
ekonomi sendiri dan aku belum sempat mendengar semua kisah mereka sebab hingga kini aku
tidak pernah benar-benar paham siapa yang menolong siapa, dan untuk siapa mereka bekerja,
Mereka menerima arahan dari orang-orang yang tersesat, sementara apa yang disebut
keberuntungan bagi mereka adalah siksaan bagiku. Sekali lagi aku tegaskan, aku Menik masih
mengutuk alam semesta yang menghadirkan penderitaan ini hingga waktu menghukum kami
dengan begitu kejam, hhhhhh.
SELESAI.
Komentar
Posting Komentar