Dua Cangkir Teh Saudara
Oleh: Syla Secangkir teh bagi Hanin selalu terlihat menawan dengan kepulan asap tipis yang menawarkan kehangatan. Menyesapnya sedikit demi sedikit membuat Hanin terbawa suasana damai akan kenikmatan serta kekhasan rasa secangkir teh. Namun tidak. Kali ini secangkir teh harus rela ia biarkan hingga menghambar. Tak panas namun juga tak dingin. Pupil mata itu. Betapapun Hanin merasa bahwa sebutir bola mata mampu menjadi mata pisau yang mampu merobek hati Hanin kapanpun si pemilik akan menghendaki. Seorang gadis dengan usia yang terpaut dua tahun menawarkan senyum terbaiknya kepada Hanin. Ia tak pernah berpikir bila senyuman itulah justru yang menjadi sebab musabab Hanin menghamburkan senyum diterpa sejuknya pagi. Ah tidak, bukan sejuk, melainkan dingin. Pagi yang dingin bagi Hanin dan gadis itu. “Aku tau sehangat apapun teh ini tak akan mampu menghangatkan hatimu pagi ini.” Ujarnya sembari menatakan posisi tepat di hadapan Hanin. Hanin tetap bergeming pada pikirannya. Ia b...