Sudut Lingkaran
Aku telah terbunuh. Hatiku mati dan tumbang meski akarku telah menancap dalam di pangkal tanah sekian lama. Tiap helai daunku yang adalah mahkotaku kini satu per satu mulai berguguran. Buahku yang adalah anakku kini mereka mati membusuk dan bercacing. Terpaan angin dan sinar matahari meruntuhkanku. Dulu aku sempat didapuk sebagai makhluk yang tak lekang oleh zaman. Namun dugaan mereka dan dugaanku salah. Ternyata aku lenyap juga. Aku ingin berteriak, namun aku terbungkam oleh sakitku. Aku ingin meronta, namun sesuatu mengikat rantingku. Aku telah mati, Bung. Aku yang telah kau tanam, kini terkulai layu di atas tanah tak berdaya! *** Sebuah bangunan sederhana yang nyaris rubuh itu seperti surga bagiku. Aku mencintai tempat itu meski tak jarang ketika hujan turun, air menggenang setinggi mata kaki. Meski banyak juga bangku dan kursi patah pada salah satu kaki. Namun tempat ini adalah surga. Sebuah papan hitam dengan sisa-sisa goresan kapur yang dihapus tak terlalu bersih selalu me...