Sudut Lingkaran

Aku telah terbunuh. Hatiku mati dan tumbang meski akarku telah menancap dalam di pangkal tanah sekian lama. Tiap helai daunku yang adalah mahkotaku kini satu per satu mulai berguguran. Buahku yang adalah anakku kini mereka mati membusuk dan bercacing. Terpaan angin dan sinar matahari meruntuhkanku. Dulu aku sempat didapuk sebagai makhluk yang tak lekang oleh zaman. Namun dugaan mereka dan dugaanku salah. Ternyata aku lenyap juga. Aku ingin berteriak, namun aku terbungkam oleh sakitku. Aku ingin meronta, namun sesuatu mengikat rantingku. Aku telah mati, Bung. Aku yang telah kau tanam, kini terkulai layu di atas tanah tak berdaya!
***
Sebuah bangunan sederhana yang nyaris rubuh itu seperti surga bagiku. Aku mencintai tempat itu meski tak jarang ketika hujan turun, air menggenang setinggi mata kaki. Meski banyak juga  bangku dan kursi patah pada salah satu kaki. Namun tempat ini adalah surga. Sebuah papan hitam dengan sisa-sisa goresan kapur yang dihapus tak terlalu bersih selalu membuatku rindu, jika hanya di hari Minggu aku tak berkunjung. Meskipun baru terbilang 1 minggu lamanya aku mengenal bangunan itu.
Ya. Sekolah. Tepat tiga tahun sudah aku melengkapi sebagian sisa hidupku untuk mengemban amanah menjadi pemangkas kekerdilan pikiran anak bangsa. Betapa bangganya aku dapat berkecimpung dalam dunia edukasi serta menyelami kehidupan anak baru gede. Ah rasa-rasanya aku seperti menyelami diriku sendiri 15 tahun silam, jika melihat mereka yang masih berusia belasan juga. Dengan begitu akupun menjadi jauh lebih memahami beragam jenis pola pikir para bibit bangsa ini.
Ah.. aku sungguh bahagia. Menyaksikan puluhan anak mengenakan seragam putih biru berbondong-bondong menuju bangunan ini. Betapa bahagianya aku dapat menyambut mereka serta mengucapkan selamat pagi kepada para cendekia negara masa depan. Lalu terbalaslah salamku dengan senyuman yang tak kalah riang dari mereka. Membuatku lebih bersemangat untuk menularkan pengetahuan baru kepada mereka.
Selamat pagi anak-anak!
Pagi Bu! mereka menjawab serentak disertai seringai-seringai yang penuh semangat.
Sebelum kita memulai pelajaran pada hari ini mari kita berdoa sesuai kepercayaan masing-masing. Berdoa dimulai.
Hening menyelmuti. Para calon cendekiaku berdoa dengan khidmat. Tak peduli suasana pagi kini memuram, yang itu artinya mereka harus rela belajar di tengah air yang menggenang. Yang itu artinya mereka harus mengikhlaskan beberapa lembar kertas akan terciprat air rembesan tanpa sengaja.
Berdoa selesai. Ibu akan mengabsen kalian satu per satu.
Satu per satu nama kusebut. Hingga akhirnya semua nama terabsen. Namun seorang siswa dengan nama Anggi menyita perhatianku. Sudah 5 hari rupanya ia tidak mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah.
Ada yang tau, dimana Anggi? Karena dia sudah tidak masuk 5 hari.
Katanya sedang sakit Bu. Seorang anak nyeletuk di belakang.
Ya. Tentu sebagai seorang guru, ini adalah sebuah beban moral baru yang harus kupenuhi tuntutannya. Bagiku menjadi seorang guru tidak serta merta hanya bertugas memberi stimulus sederhana, lalu mengharap respon yang luar biasa dari siswa. Seperti nuraniku terpanggil, lantas akuberencana untuk menjenguk siswa itu selepas mengajar hari ini.
***
Angin menerpaku. Sebuah rumah dengan pekarangan yang tak seberapa luas akhirnya berhasil kutemukan di antara rumah-rumah besar. Bangunan itu terselip nyaris tak terlihat jika aku tak jeli menelisik satu per satu nomor rumah.
Bangunan itu terselip nyaris tak terlihat jika aku tak jeli menelisik satu per satu nomor rumah. Lalu seoranggadis yang terlihat samar di balik dinding rumahnya menarik perhatian. Mungkin ia adalah Anggi.
Angin meniup senja. Membawa semburat keoranyean lalu menabur anak surya menjadi kemerahan. Siluet gadis itu semakin dekat di pandanganku. Tidak salah lagi. Kuncir kuda dengan pita merah jambu khas yang selalu dikenakan Anggi ketika pergi ke sekolah meyakinkan diriku bahwa aku tidak salah lokasi.
Anggi?
Gadis itu tak sekonyong-konyong menoleh. Namun ia sedikit menyembunyikan wajahnya lalu memandangku melalui sudut matanya. Ia meringkuk. Kedua tangannya terlipat rapat, sebisa mungkin menutupi wajahnya, tak ingin kulihat.
Ini Bu Ratih, Nak. Boleh ibu berbicara? tanyaku dengan sangat hati-hati. Sesuatu telah mengantarkan sinyal kepadaku bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada Anggi.
Ia bungkam. Ia semakin berusaha tertunduk lebih dalam. Menyembunyikan segala sisi wajahnya, tak ingin tertangkap oleh indera penglihatanku.
Maaf. Ibu pulang saja. Akhirnya ia bersuara meski sangat lirih nyaris tak terdengar.
Angin meniup beberapa helai rambutnya yang terburai tak terikat dengan sempurna. Menyingkap sisi kecil dari wajahnya. Aku memandangnya lekat. Sesekali ia isakannya terdengar. Ada salah satu sudut hati yang terketuk seketika, membuatku dengan cepat merengkuhnya. Lalu semakin terdengar tangisannya.
Ada apa Anggi?
A-aku takut Bu.. ujarnya terbata-bata.
Ada apa? Kamu bisa bercerita dengan Ibu. Tapi, bisakah Ibu menemui ibumu?
Tubuhnya menegang. Lalu perlahan ia mengendurkan pelukannya dan kini berganti menatapku dengan mata yang sudah sepenuhnya basah. Matanya memerah dengan sisa air mata yang masih tampak jelas di sudut matanya.
Jangan! Jangan cari ibu! Tolong.
Kenapa?
Ibu tidak bisa melakukan hal itu. Tolong jangan panggil ibuku, Bu. Terangnya lagi. Bola matanya membesar. Seakan-akan ada hal darurat yang benar-benar tak bisa kulakukan. Tanpa banyak pertanyaan, aku lalu melempar senyumku dan kembali merengkuh Anggi. Kali ini aku seperti merasa ada sebuah ikatan tak terlihat antara aku dan Anggi. Membuatku juga ingin merasakan keresahan yang dialami Anggi.
Jika kamu tidak mengatakan pada Ibu, bagaimana Ibu dapat membantumu Nak. Apa kamu sedang sakit?
Ia terisak. Perlahan ia menatapku dengan separuh keyakinan. Aku tak mengurangi perhatianku yang kutujukan padanya.
Aku melihat seorang gadis dengan perut membuncit. Matanya yang sembab telah menghadirkan sebuah skemata yang sungguh di luar dugaanku.
“Maafkan aku Bu. Selama 5 bulan aku bohong. Aku membohongimu, ibuku, dan bahkan diriku sendiri. Selama 5 hari ini aku berusaha mengatakan yang sebenarnya pada Ibu dan Ibuku tapi aku tidak pernah bisa melakukan. Apa yang harus kulakukan?
Entah siapa yang menanam benih pada rahimnya. Namun sebuah hal yang baru kusadari, bahwa aku tidak dapat memenuhi amanat. Sejentik lengah karenaku telah membuat masa depannya melebur bersama penyesalan. Baik untukku atau untuk seorang gadis calon cendekia negara yang kini terisak tak berdaya.
Gugurkan janin itu! hardik seseorang tiba-tiba di balik pintu.


Share on Google Plus

About Teater Sabit

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar