“Dakon” Sebelum Matahari

Sudah menjadi kebiasaanku memainkan dakon setiap pagi selepas aku pulang dari rumah Nenek tiga minggu yang lalu. Saat matahari masih sungkan berbicara pada awan, aku keluar dari rumah menelusuri gang kecil di sebelah rumahku untuk menemui Ina. Saat akan sampai, terlihat dari ujung gang ia telah semangat mengeluarkan tatakan empat belas cekungan kecil dan biji-bijian mirip biji kopi miliknya. Rumahku dan rumah Ina hanya dipisahkan sebuah gang. Tidak terlalu dekat, namun muga tidak begitu jauh. Hanya berjarak seratus meter saja.  Aku terus berjalan menyusuri dinginnya angin subuh. Ina tampak bersemangat melihatku semakin mendekat sambil senyum manis di bibirnya memanggilku.
“Kau sudah bangun rupanya. Cepatlah kemari, aku tak sabar ingin bermain.”
“Kebiasaan ini sudah jadi sinyal untukku bangun dan menemanimu, bukan?” Responku seketika melihat Ina antusias dengan dakonnya.
“Aku antusias memainkan permainan ini dengan perasaan gembira agar aku dapat hidup bahagia juga.”
Aku dan Ina duduk di teras rumah sambil tangan kami saling berinteraksi memainkan giliran dakon. Entah mengapa ia lebih suka memainkannya saat matahari belum terbit. Aku pun duduk di teras rumahnya sambil menyusun biji-biji dakon ke setiap lubang yang tersedia dengan jumlah yang sama rata. Ternyata aku mendapatkan giliran pertama untuk memainkannya. Sangat menyenangkan memang, hingga Ina akhirnya selalu dipanggil Ibunya untuk masuk ke rumah.
“Ina, akhiri permainanmu! Siapkan segelas kopi sebelum kau membersihkan rumah pagi ini.”
Entah Ina harus membuat kopi yang entah untuk siapa. Panggilan Ibunya terasa akrab di telingaku seakan itu menjadi petanda bahwa permainan kami harus berakhir dan aku juga harus bersiap untuk ke sekolah. Aku pun penasaran dibuatnya.
***
Ina bukanlah anak-anak lagi. Usianya masih sebaya denganku, usia memakan bangku menengah pertama. Ia adalah perempuan yang sangat penurut. Dia selalu menuruti apa yang ditugaskan oleh Ibunya; apapun itu ia lakukan. Akan tetapi, pertanyaan-pertanyaan selalu terbesit di pikiranku. Apa yang membuat ia tidak sekolah sepertiku? Salah satu perkiraan yang pernah kumunculkan saat itu adalah “Mungkin Ibunya masih mengumpulkan uang untuk biaya masuk sekolahnya tahun depan” karena dahulu aku pernah diberitahu jika ia harus menunda meneruskan pendidikan karena Ibunya belum punya uang, atau “Mungkin Ibunya sudah tak mampu lagi menyekolahkan Ina ke jenjang selanjutnya sepertiku.” Ina terlihat pasrah menjalani hidupnya saat ini meskipun aku dapat melihat dari air mukanya yang seakan berbicara tentang keinginannya bersekolah sepertiku itu ada. Aku diam dan hanya memandang mata sayupnya tanpa berani menanyakan.
Pagi kembali hadir, bukan kokok ayam yang membangunkanku tetapi setiap pagi seakan menjadi petanda yang membangunkanku untuk menemani Ina sejenak bermain dakon. Ini bukanlah paksaan! Ina memintaku untuk setidaknya menemaninya bermain dakon sebelum aku pergi ke sekolah. Satu per satu biji dakon kami letakkan sesuai penghitungan dan giliran. Ina sangat menikmati permainan itu.
“Aku ingin memainkan permainan ini dengan perasaan gembira agar aku dapat hidup lebih baik juga.” 
Tak membutuhkan waktu lama untukku menemaninya, sontak indera penglihatanku berpindah ke pendengaran. Ibunya memanggil dan menyuh Ina untuk menyiapkan baju yang entah itu baju siapa.
“Bukankah kau harus membuat kopi dan menyiapkan bajunya pagi-pagi sekali?”
“Iya, Bu. Aku segera masuk.” Jawabnya dengan sikap sedikit terburu-buru.
“Aku harus memenuhi suruhan Ibuku. Kita bertemu lagi besok pagi.” Dengan sigap Ina langsung membereskan dakon miliknya.
“Penuhi dulu himbauan Ibumu. Mungkin dia kerepotan dan memerlukan bantuanmu.” Tanggapanku dengan rasa penasaran. Aku pun berpamitan sambil membawa rasa penasaran.
***
Siang itu terik sekali kurasakan. Aku bergegas sampai ke rumah agar bisa minum air sepuasnya. Saat aku pulang sekolah dan melewati gang sempit sebelah rumah, langkahku tiba-tiba terhenti. Aku melihat seorang laki-laki masuk ke rumah Ina dengan leluasanya. Laki-laki itu hampir sebaya dengan kakakkuAku ingin menyapanya tetapi bibirku seakan melekat tak dapat terbuka. Dia langsung duduk di ruang tamu sambil menghisap rokok klobot untuk menghilangkan penat. Aku lebih mendekat lagi ke rumah Ina dengan langkah perlahan. Terlihat Ina keluar dari ruang tengah dan menghampiri lelaki itu. Aku tidak tahu apa hubungan mereka, tetapi Ina langsung menyapu keringat di dahi lelaki itu dengan tangan sedikit gemetar. Perlahan lelaki itu seperti enggan melihat air muka Ina yang sedikit tegang. Sejurus kemudian, ia mendorong Ina hingga jatuh ke lantai sambil berteriak,
“Kopi!”.
Aku pun takut dan langsung melanjutkan perjalanan pulang sambil membawa rasa penasaranku. Langkah kakiku terkesan labil. Rasanya aku ingin kembali ke rumah Ina untuk melihat apa yang selanjutnya terjadi, namun di sisi lain aku takut mencampuri urusan yang tidak sepantasnya aku terlibat.
***
Pikiranku masih bergelut memikirkan Ina akhir-akhir ini. Dia selalu menuruti apa kata Ibunya. Dia terlihat ketakutan menghadapi lelaki di rumahnya. Dia juga selalu memintaku untuk menemainya bermain dakon setiap pagi sebelum akhirnya dia kembali masuk ke dalam rumah untuk melakukan suruhan Ibunya. Banyak pertanyaan yang mengelilingi otakku, tetapi yang sangat aku pertanyakan adalah lelaki dalam rumah itu. Siapa dia? Apa hubungannya dengan Ina? Setahuku Ayahnya telah meninggal dunia satu tahun yang lalu. Semenjak lelaki itu ada di rumah Ina beberapa bulan ini, Ina semakin tertekan dan seakan banyak pekerjaan yang dilakukannya, terlihat dari perkataannya padaku setiap akan bermain dakon.
“Aku mohon agar waktu pagimu kau luangkan sejenak untuk mememaniku bermain dakon sebelum akhirnya kau beranjak sekolah.” Begitulah permintaannya padaku. Aku pun melihat warna biru di bahunya beberapa kali.
***
Menemani Ina sudah seperti sebuah kebiasaan rutin bagiku. Aku hendak pergi bermain dakon di rumah Ina saat itu. Saat akan tiba, tetapi tiba-tiba langkahku seketika terhenti. Aku melihat dan mendengar Ina dan Ibunya sedang berbincang di belakang rumah.
“Sudah waktunya kau dan dia hidup mandiri tanpa membebani Ibu lagi. Kau sudah cukup umur untuk kulepas, bukan?”
“Aku ingin sekolah, Bu. Lihatlah teman-teman sebayaku sedang menikmati pendidikannya.” Jawab Ina dengan dahi berkerut dan terisak-isak.
“Aku pun sudah menjemput kebahagiaanmu lebih cepat karena kemapanannya. Tak sanggup jika Ibu menyekolahkanmu sendirian semenjak Bapakmu tiada.”
Seketika hatiku kebas. Betapa selama ini Ina terlihat tertekan; tersiksa batinnya. Telah terhempas rasa penasaranku selama ini. Untuk apa Ina disuruh membuat kopi setiap pagi? Mungkin permohonan Ina untuk kutemani bermain dakon setiap pagi adalah satu-satunya hiburan baginya sebelum akhirnya dia harus melayani lelaki itu dengan penuh tekanan. Ina bukanlah anak yang tidak ingin sekolah, tetapi ia tidak mungkin lagi bisa sekolah. Dakon yang selama ini dimainkannya bersamaku menjadi hiburan satu-satunya untuk melupakan kesedihan dalam hidupnya yang banyak pupus harapan. Aku jadi teringat pemikirannya yang mengatakan bahwa ia ingin memainkan dakon dengan perasaan gembira agar berimbas pada masa depannya pula.
Ina tidak ingin memberitahuku karena ia malu kepadaku. Aku memberanikan diri untuk menjadi bagian dari dalam dirinya. Dia pun mengatakan dengan terbatah-batah.
“Aku malu kepada teman-teman sebayaku karena kesempatan pendidikanku raib.”
“Apa kau menyesali ini?” Tanyaku dengan sungkan.
“Aku menyesal! Seharusnya aku pertimbangkan setiap apa yang diperintahkan Ibuku. Status ini tidak membuatku bahagia. Aku masih butuh pendidikan.”
“Apakah Ibumu juga menyesal?” Responku seketika saat itu.
“Tidak. Ibuku beranggapan bahwa dia dapat menjemput kebahagiaanku lebih cepat.”
Mataku berkaca-kaca, begitu pula dengan air mukanya yang nampak ingin memberontak terhadap Ibunya. Aku tak habis pikir jika masa bermain dan belajarnya harus raib demi sebuah keegoisan seorang Ibu. Ina hanya mengatupkan bibirnya setelah menceritakan semua kepadaku. Aku mengangkat kepala agak lama, sekilas aku teringat oleh cerita pernikahan belia yang dialami nenekku kala itu. Tidak semua pernikahan dini itu akan menjemput kebahagiaan lebih cepat. Ruginyalah yang paling nyata. Mata Ina seakan ingin membuang tekanan bersama air yang membasahi pipinya.
“Aku hanya punya dakon sebagai satu-satunya sumber hiburanku. Aku pun butuh teman sebaya agar permainan ini dapat dijalankan dengan bahagia. Interaksiku padamu selama ini kujadikan pembelajaran seakan aku sedang bersekolah.”
“Kau tak melihat kebahagiaanku bersamamu?” tanyaku sambil menggenggam tangannya.
“Candaan sebelum matahari terbit itu sangat berharga bagiku sebelum aku tak dapat lagi tersenyum setelahnya. Seandainya aku menolak perintah Ibuku yang salah itu, mungkin aku masih bisa berangkat setiap pagi bersamamu dan masa depanku tak raib seperti saat ini.”
Badanku lemas, aku tak dapat membalas kata-katanya lagi. Hidupnya penuh kegelisahan, rasa penasaran, dan tekanan. Luka-luka bekas siksaan lelaki itupun masih terlihat di bahu kirinya. Kali ini aku sadar jika ia tak bahagia bersama lelaki itu. Kini air matanya semakin deras mengalir dan seketika memelukku sembari berteriak “Aaaaah!”

Share on Google Plus

About Teater Sabit

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar