Dua Cangkir Teh Saudara

Oleh: Syla
Secangkir teh bagi Hanin selalu terlihat menawan dengan kepulan asap tipis yang menawarkan kehangatan. Menyesapnya sedikit demi sedikit membuat Hanin terbawa suasana damai akan kenikmatan serta kekhasan rasa secangkir teh. Namun tidak. Kali ini secangkir teh harus rela ia biarkan hingga menghambar. Tak panas namun juga tak dingin.
Pupil mata itu. Betapapun Hanin merasa bahwa sebutir bola mata mampu menjadi mata pisau yang mampu merobek hati Hanin kapanpun si pemilik akan menghendaki.
Seorang gadis dengan usia yang terpaut dua tahun menawarkan senyum terbaiknya kepada Hanin. Ia tak pernah berpikir bila senyuman itulah justru yang menjadi sebab musabab Hanin menghamburkan senyum diterpa sejuknya pagi. Ah tidak, bukan sejuk, melainkan dingin. Pagi yang dingin bagi Hanin dan gadis itu.
“Aku tau sehangat apapun teh ini tak akan mampu menghangatkan hatimu pagi ini.” Ujarnya sembari menatakan posisi tepat di hadapan Hanin.
Hanin tetap bergeming pada pikirannya. Ia benar-benar dibuat tak berselera karena gadis ini. Sungguh magis apa yang sejenak dihadirkannya sehingga membuat suasana hati Hanin benar-benar kacau.
“Teh ini, seperti katamu, selalu menawarkan kehangatan dan rasa manis yang akan selalu tercecap dalam indera perasa. Lalu apa kamu tidak mengingat sesuatu?”
Hanin masih bergeming. Kemudian terdengar helaan napas berat oleh gadis itu. Paham akan keputusasaan yang mulai hadir, Hanin sejenak melempar pandang ke arahnya.
“Memang apa?”
***
Sungguh, tidak ada yang paham tentang apa yang harus dikatakan oleh Hanin untuk memohon diri lagi kepada Tuhan dan Ibunya. Tak terkecuali sang Ibu yang terhitung 14 tahun masih membesarkannya dengan 11 tahun pendidikan terkahir. Konon, Ibunya lebih mementingkan kakaknya dapat naik kelas daripada jenjang pendidikan selanjutnya bagi Hanin. Ibunya kerap menangis jika beradu argumen dengan Hanin. Suatu hari mereka sempat saling bertukar pikiran hingga tetangga samping kanan dan kiri sempat mendengar keluhan Hanin, “Aku ingin sekolah, Ibu. Aku tidak terima jika aku yang harus mengalah sementara kakak tetap aman di posisinya!”
Ibunya pun mulai meronta sedih, keputusannya tidak didukung oleh Hanin hingga membuatnya kerap berkunjung ke sana kemari menghampiri tiap-tiap rumah yang sekiranya ia kenali dan dapat dimintai pertolongan. Ibunya sempat kalap memohon-mohon di rumah tetangga demi mendapat belas kasih dan uang pinjaman agar tetap bisa menyekolahkan kakak Hanin. Namun, Ibunya selalu pulang dengan tatapan kosong. Namun otaknya tidaklah kosong, justru penuh dengan beban tentang bagaimana ia menyekolahkan kakaknya. Ya, bukan Hanin yang dipikirannya saat ini. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya agar kakaknya tetap melanjutkan sekolah di tingkat menengah atas, bukan Hanin yang jelas-jelas sudah tamat menengah pertama meskipum ijazahnya pun belum juga ditebus.
Hanin dan Ibunya kini tak harmonis lagi semenjak perdebatan mereka kala itu. Hanin kerap menangis dan bertingkah tidak waras di kamarnya. Wajar saja, ia hanya keluar kamar untuk mandi, makan, dan berdoa pada Tuhannya. Bantalnya selalu basah dengan air mata, sedangkan Ibunya tetap melanjutkan aktivitas seperti biasanya seakan tidak terjadi apa-apa. Setiap Ibunya selesai memasak, Hanin selalu dihampiri dan diajak untuk sarapan.
“Ibu sudah memasak di dapur. Jangan lupa makan, Han. Sejak kemarin kau belum makan, bukan? Jangan membuat pikiranku semakin rumit dengan keadaanmu yang terus-terusan seperti ini.”
“Aku hanya ingin sekolah, Bu.”
“Pikirkan apa yang Ibu katakan sekali lagi, Han! Rasanya Ibu sudah buntu memikirkanmu. Hanya itu keputusan yang bisa Ibu ambil agar pendidikan kakakmu masih bisa terselamatkan. Kamu hanya perlu bersabar sebentar. Ibu tidak bisa berkutik lagi saat ini. Tapi percayalah, janji Ibu hanya menunda, bukan memutuskan harapanmu. ”
Akhir-akhir ini Ibunya kerap berangkat kerja saat matahari belum terbit dan pulang agak malam; ia bekerja sebagai seorang asisten rumah tangga di perumahan Kodam. Setiba di rumah, ia langsung menghampiri Hanin yang masih setia mengurung diri di kamarnya. Hanin terlihat sedang melihat-lihat brosur-brosur yang didapat dari sekolah ke meja ruang tamu. Tertulis jelas bahwa isinya adalah penawaran untuk masuk SMA swasta. Hanin menghela napas panjang-panjang sambil sesekali memasang wajah tertarik untuk membaca dan mempertimbangkan brosur-brosur itu. Sontak perhatiannya terpatahkan karena ia tahu bahwa tak mungkin jika melanjutkan pendidikannya. Tidak mungkin bisa. Hanin pun membiarkannya dengan tidak membacanya. Hanya ada perasaan masih tidak terima dengan kenyataan hidupnya.
“Sampai kapan kau akan terus menghukum batinku seperti ini, Han? Apa kau tidak melihat kakakmu? Ia sudah berada di pertengahan jalan. Tidak mungkin jika Ibu mengorbankan kakakmu.”
“Lalu aku ini pantas untuk dikorbankan? Aku masih belum bisa menerimanya dengan lapang dada. Lihatlah teman-teman dan sepupuku, mereka sudah sibuk untuk menapaki sekolah baru yang akan mereka tuju. Aku ingin seperti mereka juga!”
“Yang terpenting sekarang adalah ketersediaanmu menerima semua ini, Han”
Pikiran Ibunya semakin rumit. Keputusan yang diambil seakan maju dan mundur. Hanin mengintip dari pintu kamar melihat Ibunya. Terlihat Ibunya sesekali mengerutkan dahi sambil sesekali memijit-mijit kepalanya yang pening akibat balada pilihan terberat dalam hidupnya. Wajar saja, masa depan anak-anaknya ada di tangannya saat itu.
Semalaman Hanin tak bisa tidur memikirkan nasibnya. Dibukanya mata dan pikiran lebar-lebar guna memahami dan menerima keputusan Ibunya dalam keberterimaan. Ia pun tak berani lagi berdebat dengan Ibunya karena tidak akan merubah keadaan. Ia mencerna perkataan ibunya dengan pikiran yang mulai dingin dan jernih. Ia kembali meneteskan air mata, seakan tidak terima dengan yang namanya keadilan.
“Ini tidak adil! Mengapa Tuhan menimpakan keadaan seperti ini kepada orang yang sangat rindu belajar?” terlampau kesal, Hanin mengembalikan pikirannya iba pada Ibunya.
“Ibu egois! Ah, aku tidak bisa memahami Ibu.”
Keesokan harinya, tak dinyana, Ibu sepertinya sudah pergi berangkat kerja sebelum Hanin bangun dari tidurnya. Ia heran, tak ada makanan di meja makan. Yang ada hanya dua cangkir teh untuk dua bersaudara yang sengaja disiapkan untuk dia dan kakaknya. Tampaknya satu gelas teh sudah berhasil diminum kakaknya saat akan beranjak sekolah. Wajahnya sedikit lunglai. Entah karena belum sarapan atau karena terlalu lelah memikirkan nasib pendidikannya.
Secangkir teh lain yang masih utuh dan tak tersentuh menghadirkan atmosfer lain dalam benak Hanin. Meski tak lagi hangat, sisa-sisa kehangatan itu meninggalkan buliran uap pada seluruh sisi dalam cangkir. Meski tak lagi hangat, namun teh tetaplah teh. Akan meninggalkan rasa manisnya meski dirasa tak lagi hangat dan senikmat awal kali minuman itu dibuat.
Ibu diam-diam mengamati Hanin dari bilik kamar. Merasa seseorang sedang menyorotinya, ia membalikkan badan. Pada saat yang bersamaan Ibu mengembangkan senyuman ke arah Hanin.
***
“Aku tau benar, ia menyeduh dua cangkir teh ini dengan sepenuh hati. Ia menyayangimu dan menyayangiku.” Tuturnya memecah lamunan Hanin.
Ada getaran halus yang membelai hatinya. Ia menatap sejenak secangkir teh yang sama sekali tak berkurang sedikitpun. Ia tau kemana arah pembicaraan gadis itu. Ia pun mengerti bahwa secangkir teh yang sedari tadi diabaikannya kini seolah-olah kembali menawarkan sisa-sisa kehangatan. Tentunya tanpa meninggalkan rasa manis yang selalu dirindukan oleh Hanin.
Sejenak, tanpa memerdulikan reaksi apa yang dimunculkan gadis itu, Hanin segera berlari menghampiri Ibu yang sedang berkutat dengan tungku sederhana. Menariknya dalam rengkuhan hangat lalu terbawa suasana haru yang tengah menyeruak.
“Aku menyayangi Ibu, maaf atas kekeras kepalaanku.”
Ibu tersenyum sembari membelai lembut rambut Hanin dan mengecupnya cepat. Ia tahu, Hanin tetaplah gadis kecil yang selalu menyayanginya [*]

Share on Google Plus

About Teater Sabit

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar