Penadah Kecil

Tubuh gadis kecil itu tampaknya sering disentuh panasnya sinar matahari, terlihat dari warna kulitnya yang sawo matang. Matanya sering berkaca-kaca, bukan karena kesedihan, mungkin terlalu banyak tertawa akibat bermain dengan adiknya di pinggiran selat Madura sambil menghabiskan waktu. Tetapi ketika banyak orang datang ke pelabuhan, ia langsung mendekati orang-orang yang menghampiri pos penjualan tiket, menghampiri pemotor dan pemobil juga pejalan kaki yang hendak menyebrangi selat madura menuju dermaga ujung Surabaya. Tangannya menyasar kepada orang-orang yang sengaja menunggu kendaraan publik lautan yang kerap disebut kapal. Mungkin memang sudah rutinitasnya mengejar-ngejar orang yang terlihat menyakukan uang kembalian pembelian tiket yang sekiranya bernilai receh atau kadang tak terlalu berat dilepaskan dari kantong mereka, lima ratus perak misalnya.
Penampilannya tak asing dipandang mata, ia berpakaian selayaknya gadis cilik pada umumnya. Tak terlihat kumal ataupun lusuh. Hanya saja rambutnya sedikit kemerahan dan warna kulitnya mencolok mata. Jika dilihat-lihat dari tumbuh kembangnya, nampaknya ia masih makan bangku tingkat sekolah dasar. Entah kelas empat atau lima. Dilihat dari wajahnya, nampaknya ia gadis pelabuhan asli, bukan gadis Jawa ataupun luar kota. Namun yang pasti, ia tidak hanya menadah, tetapi kerap kali mengikuti calon penumpang hingga recehan di saku berhasil meloncat ke tangan gadis itu.
“Pak, sedekahnya, Pak. Kasihan, Pak. Seikhlasnya, Pak.”
***
Siang itu terasa sangat terik di mata. Hawa gerah membuat orang-orang hendak berteduh dan mengayun-ayunkan kipas ke arah muka. Laki-laki dan perempuan terlihat menggerombol, begitu pula dengan para pemotor yang memanjang menunggu giliran mendapat lembaran izin menaiki kapal yang kerapa disebut tiket penumpang. Antrian itu terlihat tak sedap dipandang mata. Beberapa penyerobot turut menghiasi antrian. Satu per satu pemotor dan pejalan kaki berhasil mendapatkan tiket mereka, namun rupanya kapal baru saja meninggalkan dermaga menuju Surabaya. Orang-orang lantas mencari tempat berteduh di depan dermaga yang kebetulan dirindangi oleh gapura biru laut penanda identitas pelabuhan.
Terlihat beberapa penjual makanan berjejer di dekat pos polisi laut, tak banyak yang dijual, hanya tukang buah, gorengan, dan satu warung kecil penjual ciki dan minuman. Kapal belum juga terlihat mendekati dermaga, tiba-tiba seorang pria berseragam hijau membelokkan kendaraannya ke arah penjual buah segar. Di satu sisi yang lain, pria itu juga mencoba berteduh dari panasnya terik matahari.
“Buahnya berapaan, Pak?” Tanya pria itu sambil menunjukkan potongan semangka yang akan dimakannya.
“Seribu saja, Mas.” Jawab penjual buah.
Dilihat dari perawakannya yang tegap dan berotot, tingginya sekitar 170 sentimeter. Ia bersepatu boot, bercelana hijau dan berseragam, tertulis di bedge depan terbaca singkatan dari “Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat”.  Pria itu terlihat sudah menghabiskan dua potong semangka. Terlihat pilihan buah lain yang tak kalah mencolok rupanya, dia antaranya pepaya, melon, nanas, blewah, bengkoang, dan tentunya semangka. Setelah semangka habis dilahapnya, ia  pun mengambil sepotong buah pepaya dan menikmatinya dengan berdiri menghadap ke laut.
“Mari, Mas. Silakan ambil buahnya!” Pria itu menikmati buah sambil menawarkan kepada kawannya yang kebetulan satu profesi meneduh di depan dermaga.
“Buah segar, Pak. Baru dipotong dadakan, enak dimakan panas-panas begini. Mari!” Seru tukang buah sambil menjajakan dagangannya pada setiap orang yang melintas.
Pria itu terlihat menikmati beberapa buah yang dijajakan sambil sesekali mengamati pergerakan kapal yang tampaknya masih jauh mendekati dermaga. Ia sesekali mengajak bicara penjual buah sambil mengamati beberapa calon penumpang yang memarkirkan kendaraan dan tubuhnya di dekat gapura pelabuhan untuk menunggu sembari berteduh dari panasnya siang hari.
Pria itu terlihat sangat menikmati kesegaran buah yang dibelinya, “Segar dan manis buahnya, Pak.” Pria itu memuji kesegaran dan manisnya buah yang dijual. Pedagang buah itu hanya mengulaskan senyuman sembari mengupas kulit nanas untuk mengisi ulang stok buah di gerobaknya.
Panas semakin terik, kendati matahari sudah di atas kepala. Tiba-tiba saja sosok gadis cilik menyita perhatian pria itu. Gadis itu terlihat perlahan menghampirinya dengan kepala menunduk sambil menggaruk-garuk lengannya dengan sebuah koin lima ratus rupiah. Lantas, penjual buah itu mengulas senyum kemudian mengedipkan matanya sebelah kiri.
Seperti suatu bahasa tubuh khusus yang dijadikan kode, gadis cilik itu mendekati salah satu pembeli buah yang sedang berdiri memandang laut, langkah kakinya disertai suara menyeret-nyeret karena sandal jepit terlalu besar dipakai kaki kecilnya. Telapak tangannya disasarkan pada seorang pembeli buah yang berseragam, tertulis di seragam tentaranya bernama: Yudi.
“Sedekahnya, Om. Seikhlasnya. Tolong, Om sedekahnya.” Ia melantunkan bahasa slangnya dengan suara serak sambil menadahkan tangan dan pasang wajah memelas.
Beberapa orang sempat menatap sejenak gadis cilik itu, kemudian mengalihkan pandangan, sibuk menunggu kapal dengan tangan menggenggam sebuah alat komunikasi masa kini yang disebut handphone.
Yudi seketika berhenti menikmati buahnya, ia lantas melihat gadis cilik itu. Yudi dan gadis itu saling bertatapan. Di dalam hatinya ia berpikir, gadis itu seusia dengan anaknya. Ekspresinya menimbang-nimbang: apakah ia harus membagi rupiah atau tidak? Maklum saja, ia pernah diberitahu jika ada beberapa pengemis yang berlatarbelakang mampu namun tak malu menyuruh anaknya menadahkan tangan untuk memperkaya diri. Ia sempat berpikiran negatif mengenai gadis cilik itu, namun pikiran itu disisihkannya karena ia teringat anaknya yang seusia dengannya. Ia juga ingin berbagi namun berpikir dua kali.
“Jika kamu saya kasih uang, kamu akan ketergantungan untuk menadah terus, bagaimana jika makan buah bersama saya?”
Gadis itu terlihat ragu dengan ajakan Yudi. Ia memandang lekat-lekat wajah Yudi, teringat akan tujuannya mengemis bukan untuk makanan tetapi untuk uang agar bisa dibawa pulang.
“Ambillah buah yang kamu sukai!” Yudi menawarkan sambil memegang punggung gadis itu untuk mempersilakan.
Sejenak, gadis cilik itu merasa bimbang antara memenuhi tawarannya atau meninggalkannya begitu saja. Dalam hati ia sedikit tergiur dengan buah itu. Maklum saja, di tengah-tengah panasnya mentari siang itu, ia kerap merasa haus dan lapar. Karena tuntutan menghilangkan rasa dahaga, gadis cilik itu pun menerima tawaran Yudi untuk mengambil buah yang diinginkannya.
Rasa canggung sempat menyelimuti perasaannya tatkala melihat Yudi terlihat garang dengan seragamnya tetapi ternyata baik hatinya. Ia pun mengambil sepotong buah pepaya sekadar untuk menghargai Yudi. Di sisi lain ia juga merasa sedikit lapar karena lelah berjalan ke sana ke mari menghampiri setiap orang dengan menadahkan tangan. Beberapa kali ia juga rela mengikuti sasarannya demi rupiah. Terkesan memaksa memang, namun sepertinya sudah jadi jiwa-jiwa mereka mengejar-ngejar seseorang demi uang untuk bertahan hidup.
“Kamu mengemis karena disuruh atau memang dibiarkan oleh orang tuamu?” tanya Yudi dengan nada halus.
“Saya mengemis untuk menambah uang jajan dan membantu Ibu di rumah, Om.”
“Sudah lama kamu mengemis? Apa setiap hari kesibukanmu seperti ini?” Sekali lagi ia melontarkan tanya dan sekali lagi gadis cilik itu hanya diam menatap Yudi.
“Saya mengemis karena keluarga kami kesusahan, Om.”
“Orang tuamu sudah tahu kelakukanmu di sini? Jika mereka tidak tahu berarti kamu telah menjatuhkan nama baiknya. Tetapi jika orang tuamu sudah tahu kelakuanmu mengemis di sini, mengapa mereka tega menyuruhmu?”
Gadis cilik itu hanya menundukkan kepala, bibirnya bergetar seakan kesulitan menjawab pertanyaan Yudi.
“Makan saja buahnya, kamu mungkin masih lapar.” Sahut Yudi setelah peka pada keadaan gadis itu.
Yudi tak lantas memaksa gadis cilik itu untuk menjawab banyaknya pertanyaan yang ia lontarkan. Saat itu ia hanya berpikir mengenai tiga kemungkinan: mungkin gadis cilik itu hanya ingin membantu perekonomian orang tuanya? atau mungkin gadis cilik itu mengalami ketergantungan meminta-minta karena banyak uang yang bisa ia dapatkan? Atau mungkin gadis cilik itu memang dipaksa orang tuanya untuk bekerja sebagai pengemis? Hanya pemikiran-pemikiran abstrak yang diilustrasikan Yudi terhadap gadis cilik itu.
Ia setia menemani gadis cilik itu memakan buahnya. Di sisi lain, ia juga masih menunggu kapal yang tak kunjung berlabuh di dermaga. Apakah karena sungkan terhadap kebaikan Yudi atau rasa terima kasihnya atas buah yang dibelikan, gadis cilik itu menjawab pertanyaan Yudi dengan kesedihan yang mulai ditumpahkan dari kelopak matanya.
“Saya mengemis karena disuruh Ibu saya, Om. Bapak saya sudah meninggal. Keluarga kami kesusahan, Om. Saya tidak punya pilihan lain selain menuruti suruhan Ibu untuk mengemis di sini.”
“Lalu Ibumu?”
“Ibu juga sama, Om. Dia juga mengemis, hanya saja saya yang diberi giliran lebih banyak untuk mengemis, Ibu mengawasi dari jauh.”
Terbit kegeraman dalam hati Yudi saat mendengar perlakuan Ibu penadah kecil itu. Masih adakah hati nurani dan jiwa pembimbing dalam hatinya? Betapa seorang Ibu tidak sepantasnya menjadikan gadis itu sebagai penadah dan umpan dalam mencari uang. Hatinya kembali kebas menatap wajah gadis itu dengan miris. Ia mengolah pengakuan gadis itu dengan satu penafsiran: gadis cilik itu sengaja diperintah untuk menadah karena akan banyak orang yang merasa iba. Wajar saja, itu semua tidak terlepas dari usianya yang masih belia dan ekspresinya yang memelas meminta rupiah. Rasa miris bercampur geram pun menyelimuti perasaannya, seketika ia melontarkan pertanyaan baru.
“Kamu masih sekolah?”
“Tidak, om!” Jawab singkat gadis cilik itu sambil menggelengkan kepala.
Lantas Yudi kembali melontarkan tanya mecoba mencari alasan kenapa gadis cilik itu tak makan bangku pendidikan.
“Kenapa tidak sekolah? Bukankah ada bantuan dari pemerintah untuk anak kurang mampu sepertimu?”
“Iya memang ada, Om. Hanya saja sekolah mewajibkan siswanya untuk berseragam. Saya dan Ibu tidak punya uang untuk membeli seragam. Sekolah juga tidak mengizinkan saya mengikuti pelajaran jika tidak memakai seraagm. Sekolah saya tidak bisa membantu banyak. Apalagi untuk anak yang benar-benar kesulitan seperti saya. Belum lagi nanti pasti ada biaya-biaya lainnya. Ibu saya tidak mungkin bisa mengeluarkan isi dompet yang memang sudah kosong.”
Seketika Yudi termenung mendengar jawaban dari gadis cilik itu, ingatannya kemudian mengarah pada instansi pendidikan tempat anaknya bersekolah. Ia pernah mendengar salah satu kebijakan sekolah yang menyediakan bantuan bagi siswa yang tidak mampu. Bahkan seluruh sekolah telah diprogram oleh pemerintah menjadi bebas uang gedung dan SPP. Ia memang tidak tahu menahu persoalan kebijakan pendidikan di negeri ini, namun ia hanya mengaitkan persoalan gadis pengemis itu dengan pengumuman yang ada di sekolah anaknya kala itu. Ia hanya bingung ingin menyalahkan siapa? Pemerintahnya atau Ibu gadis cilik itu?
Siang semakin memuncak, terlihat kapal bertuliskan KMP Tongkol akan berlabuh di dermaga ujung Kamal. Gadis cilik seketika mengusap air matanya sambil terisak-isak seakan malu pada Yudi. Hanya satu kalimat yang terlontar dari mulutnya, “Terima kasih untuk buahnya, Om.” Ia beranjak dari sisi Yudi dan langsung berlari ke arah penumpang kapal yang turun dari kapal, menemui orang-orang untuk menjadi sasaran tadahan tangannya.
Yudi menghela napas panjang-panjang, melangkahkan kakinya menuju motor yang terparkir di sebelah kirinya. Ia menuju kapal sambil melihat pergerakan gadis cilik itu menadah hingga tak sadar petugas pelabuhan meminta tiket kapal kepadanya, “Maaf, Pak tiketnya?” Lantas ia memarkirkan kendaraannya di atas kapal dan melihat gadis cilik itu meminta uang kepada adiknya usai menadah di kapal yang baru datang. [*]

Share on Google Plus

About Teater Sabit

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar