MENUNGGU BUS KOTA

Ia hadir setiap sebelum matahari muncul hingga sinarnya tergelincir di jalan raya. Memburu banyak kendaraan yang diberhentikan oleh lampu petanda jalan. Sasarannya tertuju pada pengendara mobil pribadi dan pemotor yang kebetulan berhenti di tepian karena mudah dijangkau oleh kakinya sambil meneduhkan badan di bawah bayang-bayang pepohonan taman kota. Terkadang pula ia menghampiri pengendara yang berpenampilan modis yang terlihat banyak uang.
“Permisi, Om, saya numpang ngamen sebentar.”
Ia terbiasa menyanyikan lagu yang entah milik siapa. Pakaiannya agak lusuh, rambut pirangnya jadi saksi terlalu lama ia terjun di bawah terik matahari. Bocah itu tidak kurus, tetapi juga tidak gemuk, senyum kecilnya manis dan kulitnya agak gelap. Posturnya seakan berbicara seharusnya ia masih sekolah.
Entah apa yang membuat bocah laki-laki itu gemar menyanyi sambil menepuk-nepuk susunan kempyeng yang dipaku pada seruas bambu tua sedangkan ia seharusnya bersekolah di pagi hari. Satu yang pasti, para pengendara hanya meliriknya seakan tahu bahwa ia ingin menukarkan bunyi kempyeng itu dengan rupiah, entah berupa koin, lembaran, ataupun makanan. Tetapi tidak sedikit pula yang menghela nafas karena bosan melihat ia selalu ada di jalan itu.
***
Terlampau berisik saat semua orang bergegas melakukan rutinitas tetek bengeknya. Begitulah suasana pagi hari di jalan raya yang terkesan sangat sibuk bagi semua orang, semua kendaraan seakan tergesa-gesa untuk mengejar waktu menjadi buruh, persiapan berangkat ke sekolah, dan rutinitas tetek bengeknya. Terlihat seorang pengendara motor berpakaian rapi tiba-tiba membelokkan kendaraannya dan masuk ke tempat penitipan sepeda.
Laki-laki itu terlihat membawa tas berukuran besar seperti akan pergi jauh. Ia lalu keluar dan mencari tempat duduk di pinggir jalan. Ia tak sengaja melihat seorang perempuan paruh baya yang sedang duduk berteduh di dekat warung tepi jalan sambil memegangi perutnya.
“Permisi, Bu. Boleh saya turut duduk di sini?” Perempuan itu hanya melontarkan senyumnya sekilas pada laki-laki itu.
Tak banyak yang dibicarakan dia dengan perempuan itu. Ia hanya duduk sembari melihat-lihat warung di dekatnya yang ramai pembeli. Wajar saja, tepian jalan raya itu ramai penjual kaki lima dan warung-warung nasi karena dekat dengan taman kota. Entah sekadar basa-basi atau yang lainnya, dia mencoba mengobrol dengan perempuan di sampingnya.
“Ibu mau ke mana? Menunggu angkot atau jemputan?” tanyanya berusaha seramah mungkin.
“Tidak, Nak. Saya di sini hanya menunggu seseorang.” Jawab perempuan itu dengan singkat.
“Kebetulan, Bu, saya juga sedang menunggu bus kota di sini. Saya sengaja datang lebih awal agar tidak terlalu sore saat sampai di Madiun.”
“Iya, Nak. Bus kota itu biasa melintas di bypass ini dua jam sekali.” Sahutnya dengan singkat.
Perempuan itu kerap melihatnya dengan tatapan agak sinis. Ia membandingkan penampilannya yang jelas berbeda jauh. Laki-laki itu bernama Darto. Ia berpakaian rapi dan modis, rambutnya klemis, serta perawakannya yang gagah dan tinggi, sedangkan ia berpenampilan kumal.
Begitu lama Darto harus menanti bus kota pagi itu. Terlihat banyak warung berjejer, tetapi pandangannya tertuju pada satu warung di sebelah kirinya sambil melihat-lihat apa saja yang tersedia di warung itu. Ia berjalan ke warung itu dan akhirnya ia membeli air mineral dan dua buah roti untuk sebatas mengganjal perutnya yang belum sempat sarapan. Namun belum sempat ia mencicipi sebungkus roti, tiba-tiba perempuan tadi kembali menarik rasa empatinya. Sejurus kemudian Darto kembali melempar pandang ke arahnya. Lalu  ia langsung kembali ke tempat duduknya dan memberikan satu rotinya kepada perempuan di sampingnya lantaran tak tega melihat perempuan itu jika ia terus menahan kelaparannya.
“Makanlah ini, mungkin perut Ibu kurang nyaman karena belum sarapan.”
“Terima kasih, Nak.” Ibu itu langsung memakan roti itu sampai habis tanpa rasa sungkan. Darto lantas menawarkan air mineral yang dibawanya meski hanya separuh.
Darto tak lantas beranjak dari samping perempuan itu meski bau tubuhnya sedikit aneh. Ia sesekali melihat-lihat warung yang banyak berjejer di tepi jalan, tiba-tiba perhatiannya tertuju pada dua orang penikmat kopi yang berbincang cukup keras hingga terdengar olehnya.
“Apa bocah itu terpaksa?”
“Orang tuanya lebih senang ia menghasilkan uang daripada menghabiskan uang. Ada yang mengatakan ia di bawah tangan bandar, mungkin pula orang tuanya yang memaksa.”
“Suatu saat jika petugas penertiban jalan ini bergerak, mungkin tak akan ada lagi bandar yang memperkerjakan anak kecil di jalan ini.” Darto sedikit antusias dengan pembicaraan dua lelaki itu.
***
Terik matahari yang menyilaukan mata Darto tak lantas membuatnya beranjak dari tempat duduknya di dekat warung. Ia memandang berbagai macam kendaraan yang berhenti di lampu merah, tapi pandangannya tertuju pada seorang bocah laki-laki yang mengitari setiap pengendara sambil menepuk-nepuk sebuah alat musik sederhana dari beberapa kempyeng sambil melantuntan lagu Melayu. Suaranya sedikit serak sambil sesekali memandang ke arahku dengan mata ketakutan.
Darto pun heran, mengapa ia mengamen dengan wajah ketakutan? Mata Darto tak henti-hentinya mengikuti ke mana arah bocah itu menghampiri dari satu kendaraan ke kendaraan lainnya selama lampu merah berlangsung. Tak banyak kendaraan yang dihampiri bocah itu karena lampu merah sangat cepat berlalu, lantas ia kembali menepi. Kali ini bocah itu tidak menepi di sebelah kiri tetapi di sebelah kanan; tepat berada di samping Darto.
Bocah laki-laki itu ditaksir seumuran dengan anak sekolah dasar. Ia tak pernah menadahkan tangan kepada orang-orang di luar garis lampu merah. Banyak orang di warung tepi jalan yang memicingkan mata kepada bocah itu, tetapi bocah itu tetap fokus pada uang yang perlahan memenuhi kantong celana pendeknya. Bocah laki-laki itu selalu menengok ke arah Darto dengan ekspresi tegang, entah apa yang dilihatnya Darto tidak mengerti.
“Dik, boleh kita berbincang sebentar? Kamu pasti lapar”
“Boleh, Om.” Bocah itu akhirnya memenuhi ajakan Darto tetapi sesekali ia menengok ke belakang.
Ia menawarkan beberapa makanan yang dijual di warung itu, seperti nasi bungkus, minuman, dan roti tawar kepada bocah itu.
“Bolehkah saya mengambil nasi ini? Mungkin nasi ini akan membuat saya lebih kenyang daripada roti tawar yang di sana.” Sahutnya dengan suara serak yang agak lemah.
Darto menganggukkan kepala, menatap mata sendunya, lalu memberikan senyuman. Darto mencoba menimbang-nimbang perbincangan dua orang tadi, apa benar bocah itu mengamen karena paksaan bandar atau orang tuanya? Maklum saja, ia sedikit terpengaruh dengan paradigma negatif dua orang tadi, ia mencoba menanyakan kepada bocah itu.
“Makanlah sebanyak perutmu menginginkan kenyang, aku akan jadi temanmu pagi ini.” Darto mengatakannya sambil mengelus-elus rambut bocah itu.
Sejenak, bocah itu heran, tawaran Darto adalah yang pertama kali selama ia mengamen di jalan raya. Ia sangat bersyukur saat itu karena perutnya dapat terisi pagi itu, tetapi lagi-lagi matanya menengok ke arah tempat duduk Darto tadi. Darto melihat bocah itu sambil tersenyum ramah.
“Apakah sudah lama kamu mengitari para pengendara di jalan ini?” tanya Darto dengan sedikit sungkan.
Bocah laki-laki itu langsung menundukkan kepalanya sambil perlahan membersihkan kertas minyaknya hingga tak ada nasi yang tersisa.
“Bukankah setiap pagi waktunya anak-anak seusiamu berangkat ke sekolah? Di mana orang tuamu? Apa mereka tahu yang kamu lakukan di sini?“
Selesai menghabiskan nasi bungkus, ia seperti sungkan dengan Darto karena banyak pertanyaannya tak kunjung ia jawab. Akhirnya bocah itu memberanikan diri untuk berbagi cerita kepada Darto.
“Saya mengamen bukan karena keinginan sendiri, tapi saya menjalaninya karena berbakti pada orang tua.”
“Apa harus seperti ini caramu berbakti?” Tanya Darto dengan sigap.
“Saya tidak dapat menceritakannya di sini karena saya takut. Jika boleh memilih, saya lebih menginginkan sekolah daripada mengamen tapi orang tua menentang dan memaksa saya untuk seperti ini. Jika tidak menurut, saya tidak dikasih makan dan tidak disekolahkan tahun depan.” Jawabnya dengan suara yang terdengar pelan seakan tidak ingin ada orang lain yang mendengar.
Darto semakin bingung dengan pengakuan yang dilontarkan oleh bocah itu. Apakah ada orang tua yang tega menyuruh anaknya untuk mengamen? Ia sempat memikirkan rencananya untuk melaporkan orang tua bocah itu sebagai sebuah kasus. Darto sangat miris melihat bocah itu, ia tidak memikirkan risiko yang akan dialaminya jika nanti petugas penertiban jalan datang. Maklum saja, Darto hafal betul apa yang akan dilakukan petugas penertiban jalan jika tahu ada pengemis liar di tempat itu karena temannya berprofesi demikian. Begitu pula dengan bandar pengemis yang tega memperkerjakan bocah yang seharusnya masih harus bersekolah.
“Caramu berbakti adalah salah. Berbaktilah dengan bersekolah, bukan dengan menadah!”
“Saya takut Ibu marah, mungkin saya tidak akan bisa makan jika tidak mengamen.” Jawab bocah itu dengan hidung sedikit memerah.
“Apa Ibumu tidak bekerja?” Bocah itu hanya tertunduk sembari mengepalkan jari-jarinya yang terlihat gemetar.
Pikiran Darto sudah mulai kacau memikirkan nasib bocah itu, tetapi seketika perhatiannya tertuju pada sebuah bus kota yang berhenti di depannya, ternyata bus yang ditunggu-tunggu oleh Darto akhirnya muncul. Darto akhirnya memutuskan untuk beranjak dari warung dengan pikiran yang masih mengasihi bocah itu dan gemas terhadap perlakuan orang tuanya. Ia membayar apa yang telah dibelinya dan bocah itu kembali ke jalan raya sambil menepuk kempyeng dan menadahkan tangannya.
Darto menuju ke arah bus dengan bergegas. Tak lupa pula ia melontarkan senyum sambil menyapa perempuan itu, “Mari, Bu?”
Adapun saat Darto melangkahkan kaki menuju bus kota, tiba-tiba sebuah mobil petugas penertiban jalan datang dan langsung berhenti di dekat Darto, ia pun terkejut melihat banyak pedagang yang berhasil terangkut. Tiba-tiba perempuan yang berada di dekat Darto tadi langsung berlari secepat yang ia mampu. Darto langsung bertanya kepada salah satu petugas dengan wajah panik.
“Mengapa perempuan itu dikejar juga?”
“Dia salah satu bandar pengemis yang kami cari selama ini.” Jawab salah satu petugas yang mencoba mengejar perempuan itu.
Seketika bocah lelaki itu terkejut melihat perempuan itu berlari dan bergegas menyusul pergi. “Ibu, tunggu!” Teriakan bocah itu membuat Darto terkejut. Betapa pagi itu Darto telah banyak berbincang-bincang dan berbaik hati pada perempuan yang salah. Wajah Darto menunjukkan perasaan miris dengan tatapan terpekur. “Ternyata kasus pemanfaatan anak sebagai lahan uang masih belum selesai. Ibunya bahkan tidak memperdulikan nasib pendidikannya.” Ujarnya sembari melangkahkan kaki pada tangga bus kota yang akan membawanya pergi meninggalkan tempat itu. [*]

Share on Google Plus

About Teater Sabit

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar