Mantra Alim

Oleh: Syla
Tak ada yang merasa nyaman hidup di pinggiran sungai itu akhir-akhir ini. Sungai yang terlihat pertama kali pada  9 tahun silam, tepatnya pada tahun 2004 yang lalu selalu tampak jernih, bahkan para warga dapat bercermin ramai-ramai melihat wajahnya masing-masing. Sungai Avur Buntung namanya. Tak ada yang tahu mengapa dinamakan  demikian. Tak terkecuali Misbah-tokoh ulama yang cukup dikenal warga desa Cadas. Sungai itu mengalir tenang dan melintasi sepanjang desa. Misbah hanya melihatnya sebagai korban kejahatan manusia yang telah membuat rumahnya seperti rumah apung jika musim hujan tiba. Ia masih ingat betul dengan apa yang terjadi 9 tahun silam.
Suatu pagi, terjadi pemandangan aneh di sepanjang hilir sungai Avur Buntung. Banyak warga berkerumun di sebuah titik pinggiran sungai. Terdapat bangkai seekor ayam  dan  dua ekor kambing mengembang di sungai itu. Bau yang timbulkan sontak membuat warga membungkam mulut dan hidung seketika. Para warga pun bergegas menyingkirkan bangkai kambing dan ayam itu agar terbawa arus meninggalkan pemukiman mereka agar tak lagi mengganggu pemandangan dan penciuman.
“Bangkai-bangkai itu sengaja dibuang ke sungai ataukah mati karena terperosok dan tenggelam?”
“Sangat mengganggu pemandangan dan penglihatan jika dibiarkan.”
“Bahkan seminggu yang lalu juga pernah ada bangkai serupa di Avur Buntung.”
“Bisa jadi Avur Buntung meminta tumbal hewan ternak.”
Sejak saat itu, Misbah memandang sungai Avur Buntung sebagai cerminan manusia. Ya, manusianya! Sungai yang dulu bening kehijauan itu telah berubah warnanya, bagaikan warna kopi susu yang sering diminumnya akhir-akhir ini di kedai Bliss, hanya saja sangat berbeda aroma dan rasa. Banyak pemandangan sungai yang membuat setiap orang memicingkan mata. Sampah plastik, kasur, kayu, sandal, tikar, dan tetek bengek bekas manusia. Ternyata sungai itu tidak hanya digunakan untuk melarung benda muang sangkal tetapi juga tempat sampah akibat perilaku dangkal manusia.
***
Waktu masih pagi tapi terlihat mendung. Warga memprediksi hujan akan turun di desa itu. Wajar saja, mendung pagi itu tak seperti biasanya. Awan berubah menjadi sangat gelap, tingginya menggantung. Seakan tak kuat menggendong beban dan ingin segera diturunkan. Dan benar, ia jatuh membawa molekul air dan kenangan yang kerap disebut hujan. Hujan turun begitu lebat dari pagi hingga sore hari. Air sungai Avur Buntung dipastikan bakal meluap hingga menutupi jembatan yang menjadi akses jalan ke desa seberang. Rumah Misbah pun turut menjadi korban rumah apung. Ia miris melihat rumahnya sendiri. Ia hanya dapat mengartikan air yang menggenangi rumahnya sebagai bentuk rahmat Tuhan, tak terkecuali Alim—seorang mahasiswa pendidikan agama yang membawa kedewasaannya kembali ke kampung ini.
Alim—pemuda yang beberapa tahun silam menapakkan kaki di tanah perantauan dengan alasan pendidikan, kini menjadi seorang pemuda yang penuh ambisi. Pemuda asal Desa Cadas yang tepat 2 tahun silam sejak memikul status mahasiswa mejadi seorang aktivis pecinta alam di kampus. Dengan seluruh tekad dan ambisi yang ada, ia ingin berkontribusi pada desanya.
“Jika dulu sewaktu kecil aku masih dengan riang berenang menikmati arusnya yang tenang serta airnya yang jernih, maka sekarang aku hanya bisa meratapi apa yang kini telah terjadi dengan tempat mandi favoritku. Bahkan airnya kerap menggenangi rumahku, layaknya rumah apung.” Ujarnya sembari menghela napas.
Sungai itu kini telah berbeda. Memunculkan sebuah tekad baru bahwa pengalaman dan pengetahuan yang telah ia dapatkan selama menjadi anggota mahasiswa pecinta alam sudah selayaknya kini ia dapat merubah keadaan sungai desanya menjadi layak untuk kembali disebut sungai.
Di depan rumah, terlihat Misbah tengah menunggu Alim pulang. Dia telah 4 bulan belum pulang dari tanah perantauan karena tuntutan pendidikan tingginya. Kemarin dia mengabari Misbah lewat handphone bahwa sore ini dia akan pulang ke rumah karena libur semesternya telah tiba. Tampaknya langit tak begitu bersahabat dengan desanya akhir-akhir ini. Misbah tetap menunggu Alim pulang, ia ingin bercerita tentang keadaan rumah saat ini. Alim tak kunjung pulang meskipun hujan telah reda sore itu. Tiba-tiba Misbah didatangi oleh seorang warga yang mengatakan bahwa Alim jatuh ke sungai saat tengah melintasi jembatan sungai. Alim dikabarkan terjerumus ke sungai Avur Buntung, tepatnya di belakang MI Babussalam. Misbah pun langsung panik mendengar kabar itu. beberapa warga yang melihat kejadian langsung bergegas untuk menolong Alim. Untung saja Alim pandai berenang. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Kemudian beberapa hari setelah kejadian itu, Alim mendatangi rumah ketua RW di desa...
“Sungai avur buntung telah berubah warna, Pak. Pemandangannya pun tak lagi indah. Apalagi jika musim hujan tiba, airnya meluap hingga menutupi jembatan sungai. Bahkan rumah kami pun jadi rumah apung. Sepertinya avur buntung meluap karena telah banyak dipenuhi sampah.”
“Mau bagaimana lagi? Beberapa tahun belakangan ini warga kampung senang membuang sampah di sungai. Mereka enggan untuk membuangnya di tempat sampah dinas kebersihan. Tapi jika musim hujan tiba, warga juga yang mengeluhkan luapan air sungai jika musim penghujan tiba.”
“Akan sangat menyusahkan jika masalah avur buntung tak kunjung ditindaklanjuti, Pak. Apakah tidak sebaiknya kita mengadakan penyuluhan dan kerja bakti?”
Warga memang seakan tak mempedulikan lingkungan beberapa tahun terakhir. Mereka terkesan masa bodoh dengan nasib lingkungan jika sampah-sampah telah menumpuk dan menyumbat aliran sungai. Alim akhirnya mengumpulkan warga ke balai desa untuk dihasut secara kolektif. Tentu saja atas izin dari pejabat desa setempat.
“Melihat kondisi sungai avur buntung saat ini, saya jadi rindu avur buntung 9 tahun silam. Warnanya yang kehijauan sangat sedap dipandang mata. Namun lihatlah sekarang, avur buntung sangat memprihatinkan. Sampah di mana-mana, eutrofikasi juga turut mewarnai sungai, jutaan eceng gondok juga menyumbat aliran sungai avur buntung. Semuanya terhenti di bendungan dekat jembatan.”
“Alim, bukankah yang air sungai itu selalu mengalir? Pasti sampah itu bukan hasil  dari buangan kami saja.”
“Memang benar, tetapi bukankah lebih baik jika perubahan dimulai dari diri kita terlebih dahulu? Kita bisa merubah kebiasaan buruk itu dengan membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan petugas, melakukan daur ulang sampah plastik, membakar sampah, menimbun barang bekas, dan kerja bakti rutin.”
“Jika memang hal itu bisa membuat avur buntung tidak lagi meluap, apa tindakan yang bisa kamu lakukan agar warga mau berkomitmen menjaga kebersihan sungai?”
“Jangan dibuat sulit, saya tidak akan menyangkutpautkan dengan undang-undang ataupun denda materi. Semua berawal dari diri kita masing-masing. Saya cuma pemuda yang ingin memberi saran terkait keresahan anda semua yang rumahnya di pinggiran sungai yang kerap mengeluh setiap musim penghujan karena rumahnya kebanjiran, seperti rumah apung.”
Setelah penyuluhan sore itu, Misbah penasaran dengan apa yang akan dilakukan Alim untuk memotivasi warga desa. Wajar saja, bukan Alim namanya jika tak banyak mantra. Keesokan harinya Misbah diajak Alim untuk pergi ke rumah pak RW. Dan benar saja, Alim mengajak Misbah dan pak RW untuk membuat papan berisi mantra-mantra yang akan menyihir warga desa agar tak lagi mengotori avur buntung. Mantra-mantra itu dituliskan pada puluhan papan untuk kemudian ditancapkan di sepanjang pinggiran sungai avur buntung di desa itu.
Awalnya warga tak begitu menghiraukan papan mantra yang dibuat Alim, tapi luapan air sungai saat musim hujan belum berakhir masih saja membuat miris. Ternyata warga masih kerap membuang sampah dan tetek bengeknya ke sungai avur buntung. Alim mencoba berbagi cerita kepada Misbah.
“Mantra apa lagi yang akan membius warga menghentikan kebiasaan buruknya, Bah?”
“Jika dengan mantra halus saja mereka enggan berhenti, mungkin dengan mantra agama mereka tidak akan berani.”
Wajar saja, warga di kampung itu cukup takut dengan yang namanya mantra jika sudah ada sangkut pautnya dengan Tuhan. Jika dengan bahasa manusia mereka tidak menggubris, Alim yang notabenenya adalah pemuda yang pandai bermantra, apalagi ia sedang belajar agama di sebuah universitas di Surabaya pun mencoba menulis mantra yang diharapkan dapat menegur keras kebiasaan warga membuang sampah di sungai. Tertulis Annadhofatu minal iman. Kebersihan adalah sebagian daripada iman.
Waktu demi waktu pun telah terlewati. Peran Alim mengajak Misbah dan pak RW mengadakan penyuluhan, memasang mantra-mantra manusia, dan mantra andalannya yang seketika dikutipnya dari sebuah kitab lama pun perlahan membuahkan hasil. Sungai avur buntung sedikit demi sedikit telah bebas dari sampah. Banjir di rumah warga pun perlahan menyusut. Alim dan Misbah tak lagi meradang.
“Andai kita setia menjaga sungai ini dari dahulu, pasti sungai ini masih bernyawa dengan warna airnya yang kehijauan.” Pungkas Alim.
“Jika kita tak berpikir dangkal, mungkin tidak akan ada keresahan dan tidak ada penyesalan. Yang terpenting Avur Buntung tak lagi tersumbat. Semua warga dapat lebih hati-hati memperlakukan sampah karena mantra-mantra hebatmu itu--” sahut Misbah.
“Meskipun kita tidak dapat menyelamatkan warnanya, setidaknya alirannya kembali lancar seperti dulu-persis 9 tahun silam.” Lalu ia kembali menambahkan.
Mantra Alim memang sangat mujarab. Seluruh warga desa terhasut oleh mantranya. Setiap pekan telah menjadi kebiasaan rutin membersihkan sampah yang menyumbat aliran air. Perasaan Misbah pun turut mendukung peran Alim yang menyumbangkan mantranya untuk mengembalikan kebersihan avur buntung di sela-sela menikmati liburan semesternya.
Sepersekian detik kemudian, Misbah dikejutkan oleh Alim yang tetiba memegang kedua lengannya. Misbah menghela napas panjang-panjang. Ia memanjatkan syukur atas hadirnya sosok pemuda desa yang berani memikul kepedulian atas keberlangsungan avur buntung.
Kini, avur buntung tak lagi berhias sampah. Meski warnanya tak lagi kehijauan, setidaknya Misbah dan Alim tak lagi punya rumah apung saat musim hujan tiba. Keduanya memandangi mantra-mantra di pinggiran sungai itu. Kini warga desa tak lagi memandang mantra-mantra yang ditancapkan di sepanjang pinggiran sungai itu sebagai bentuk ketakutan, tetapi slogan-slogan kebersihan. Sepertinya mantra andalan Alim dan Misbah masih manjur sepanjang 9 tahun terakhir. Para warga selalu mengurungkan niatnya membuang sampah karena mantranya, terbentang di pinggir sungai, yang berbunyi, “Ya Allah sing buak sampah nang kali Avur Buntung mandar mugo mlarat, kepaten, kesusahan, sengsoro, lan kenek azab sak cepete!” Hanya tersisa bunyi khas aliran sungai yang terdengar. Mengalir jauh hingga ke Surabaya... [*]

Share on Google Plus

About Teater Sabit

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar