Tiga Suara di Otak Kenanga

Oleh: Syla
Jalannya disertai dengan ekspresi sedikit menunduk. Angin berlabuh di badannya begitu kencang hingga membuat badannya sedikit goyah. Sesekali ia menghela nafas panjang sambil tangannya seraya ingin memeluk dirinya sendiri. Perlahan matanya melihat hamparan tanah dengan banyak gundukan dan lekuk-lekuk batu tempat masa depan semua orang yang kerap disebut makam.
Tubuhnya mencoba menentukan arah di mana lokasi Ibunya dimakamkan. Langkah kakinya seakan lemah akibat lelah menempuh perjalanan dari rumah hingga sampai pada peristirahatan Ibunya. Langkah kakinya terhenti seketika saat sampai pada lekukan nisan di depannya. Tangannya bergetar, ia duduk termenung sambil membelai batu nisan di hadapannya. Tangannya yang sebelah lagi meremas-remas tanah. Badannya lemah, genangan air di kelopak matanya seakan ingin menumpahi pipi tirusnya tetapi mencoba ditahan.
“Ibu, mengapa engkau membiarkan aku berjuang sendirian? Engkau membiarkan aku hidup bersama Ayah yang selalu berbeda haluan.” perkataan itu terucap dengan suara bergetar.
Perempuan itu sesekali menyapu air di pipinya seakan tak rela jika berjatuhan  ke atas sebuah gundukan tanah yang sedang diratapinya. Kenanga, itulah nama yang diberikan Ibunya. Ia lahir tanpa saudara.
“Ibu, kau rela memperjuangkan hakmu sebagai perempuan saat itu. Kau juga memperjuangkan diriku agar tetap bertahan menghadapi kerasnya kehidupan. Ibu bekerja ke kampung seberang sambil membawaku dalam perut Ibu. Begitu cerita yang kudengar dari si Mbok,” ia berbagi cerita sambil menahan tangis.
Kenanga dilahirkan di kampungnya tepat pada saat orang tuanya sedang bergejolak. Saat itu, Ibunya berjuang sendiri untuk menghidupi keluarganya. Ia lahir saat gejolak orang tuanya belum mereda, setiap malam adalah pertikaian pendapat antara suami dan istri. Ia dilahirkan atas bantuan dari salah satu dukun beranak di kampungnya. Akan tetapi, Kenanga dilahirkan dalam keadaan kekurangan berat badan akibat Ibunya terlalu tertekan menghadapi perjuangan perempuan. Maklum saja, Ayah dari Kenanga hanya berprofesi sebagai pedagang bakso keliling, yang penting adalah balik modal agar dapat kembali berjualan saja sudah bersyukur. Akan tetapi, usahanya tidak bertahan lama. Ayahnya sering sesak napas akibat terlalu banyak merokok di masa muda.
“Ibu, kata si Mbok, Ibu sangat kesakitan ketika melahirkan aku. Ibu harus menghadapi sakit fisik dan batin dalam waktu bersamaan saat melahirkan manusia kecil yang seakan hadir di tengah-tengah pertikaian paradigma kalian berdua. Jeritan suara Ibu saat melahirkanku masih teringat jelas di telinga dukun beranak yang membantu kelahiranku. Ibu....”
Kenanga masih mengingat-ingat semua cerita Si Mbok dan dukun beranak itu. Kelopak matanya masih menahan air mata hingga mukanya tampak sembab dan memerah. Tangannya bergetar tatlaka mengelus-elus batu nisan yang tak lagi bernama jelas. Kepalanya sesekali bersandar di batu nisan dengan tatapan kosong penuh pertanyaan.
“Aku tak bisa menyalahkan Ayah, Ibu. Ayah dan Ibu mungkin dahulu saling mencintai, meskipun Ayah ingin agar aku bekerja selepas lulus SMA, namun Ibu tetap memperjuangkan masa depanku untuk tetap bersekolah tinggi. Ibu rela bekerja mati-matian hanya demi menyekolahkan aku. Ada yang mengatakan bahwa Ibu sebenarnya sakit tetapi selalu menutupinya dariku. Ibu selalu menjalani kehidupan seperti biasa meskipun dengan beban hidup yang luar biasa. Namun Ibu merasa kelelahan, bukan? Si Mbok menceritakan semuanya kepadaku, Ibu. Hanya saja, aku penasaran dengan penyebab kematianmu, Ibu? Mengapa Ibu tidak melakukan pembelaan kepada Ayah? Apa karena kita perempuan?”
Kenanga semakin tak dapat menutupi kesedihannya. Pipinya berderai air mata. Dadanya terasa sesak ketika ia membuka memori lama yang selalu dipertanyakannya selama ini. Pipi tirusnya basah dan memerah, matanya terus meluapkan air mata. Nisan yang dulu kering kini telah sedikit basah akibat air mata Kenanga.
“Aku jarang menghubungi Ayah sekarang. Semenjak Ibu meninggalkanku, Ayah semakin ingin agar aku menuruti sarannya. Apa salahku? Ah, aku tidak tahu harus percaya dengan siapa sekarang, Ibu. Aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah dengan beasiswa, si Mbok juga mendukungku. Tetapi di saat itu juga Ayah menentangku untuk kuliah karena baginya kuliah hanya akan menundaku untuk membahagiakan dan membalas budi jasa orangtua. Baginya, sekolah hanya untuk menjemput uang, uang, dan uang. Aku tidak tahu harus bersandar kepada siapa lagi, Ibu. Mengapa Ibu tidak  ingin bersabar sedikit lagi untuk kebahagiaan yang ingin aku raih?”
Kenanga mulai memperlihatkan gejolak dalam hatinya. Di atas makam dia mencoba mencari jawaban dari apa yang harus ia pilih selama ini. Suaranya lirih, hanya suara angin yang menerpa pohon-pohon seakan mendampinginya membisikkan doa untuk Ibunya.
“Ibu, apakah kau tidak ingin melihatku berhasil suatu saat nanti? Hanya kaulah satu-satunya penyemangat hidupku hingga saat ini, Ibu. Tetapi kini Ibu berbaring di sini, siapa yang akan memanduku menguatkan hati dan pikiranku? Aku tidak tahu harus melanjutkan kuliah tanpamu ataukah bekerja demi menuruti kemauan Ayah?” bisik Kenanga dengan lirih.
Kenanga terisak-isak memandangi makam itu. Meski matahari telah berada di atas kepala, tubuhnya tetap tak ingin beranjak. Sesekali matanya kembali menjatuhkan air mata, kendati panas semakin terik. Kenanga tak lagi menghiraukan hembusan angin yang menerpa tubuhnya. Ia masih ingin menggali kenangan bersama nama yang tertulis pada nisan yang diratapinya.
“Ibu, bagaimana caranya aku membahagiakanmu ketika aku dewasa kelak? Ibu sudah banyak memikul beban hidup demi menyekolahkanku, bukan? Pengorbananmu menyekolahkanku agar tak bernasib sama sepertimu selalu kuingat, Ibu. Kau rela bekerja menjadi buruh pabrik, buruhrumah tangga, hingga buruh cucidemi agar aku bisa makan dan bersekolah tinggi. Kau tak menentang paradigma Ayah bahwa bersekolah hanya cukup sampai tingkat menengah. Tetapi kau berusaha mendorongku untuk meninggikan sekolahku.”
Suara tangisan Kenanga sekaan menyatu dengan suara gemerisik daun yang bergoyang ditiup angin siang.
“Ibu, aku sekarang hanya dapat melihatmu terbaring di sini, itupun tidak setiap hari aku berkunjung ke sini. Aku sekarang telah tumbuh menjadi perempuan yang mirip denganmu, Ibu. Kata si Mbok bola mataku sama persis seperti sinar mata yang Ibu miliki semasa masih hidup. Aku sekarang telah menjalani pendidikanku di Universitas. Aku telah memenuhi keinginan Ibu agar aku bersekolah, bukan? Ibu sendiri yang menyuruhku untuk punya harapan masa depan, aku harus sekolah tinggi agar cita-cita dan masa depanku dapat tercapai. Kata si Mbok, Ibu diam-diam menabung demi jaminan pendidikanku. Aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbananmu, Ibu. Aku akan mengambil arah untuk menuruti paradigmamu bahwa perempuan juga harus punya masa depan, tidak mudah ditindas kaum laki-laki. Aku akan menyelesaikan sekolahku demimu, Ibu. Ibu tak usah khawatir, aku akan sering-sering menjengukmu di sini.”
Kenanga mulai menampakkan wajah geram. Ia berusaha lepas dari kesedihan yang membawanya hanyut berlama-lama. Ia memandangi makam ibunya, seketika ia memegang nisan Ibunya sembari mengusap pipinya yang telah lama basah.
“Aku akan berusaha keras demi sekolahku, Ibu. meskipun bertentangan dengan pemikiran Ayah, aku tetap akan melanjutkan sekolahku dan berjuang menggapai cita-citaku. Kita akan membuktikan pada Ayah bahwa perempuan bukanlah simbol kelemahan. Perempuan juga berhak mengatur masa depan dan memiliki cita-cita. Aku akan selalu mengingat perkataan Ibu, aku akan melanjutkan perjuangan Ibu.”
Kenanga tampak kembali berkaca-kaca, matanya mulai memerah. Suaranya terdengar pelan, bahkan sangat pelan, hampir tersamarkan dengan akibat suara dedaunan yang saling berbenturan.
“Ibu, bagaimana jika Ayah kembali menghukumku dengan perkataan-perkataan yang akan menjatuhkan mentalku? Apa karena kita perempuan? Ajari aku bagaimana caranya melawan paradigma Ayah, Ibu.”
Dari depan pintu masuk makam terdengar suara langkah kaki seseorang, seperti hendak menghampiri Kenanga, namun ia tetap khusyuk, seakan tak ingin mengalihkan pandangan dari makam Ibunya.
“Kau ada di sini rupanya.”
Kenanga seketika berhenti menangis, ia menaikkan kepala menatap seseorang yang menyebut namanya, dari kaki hingga sampai pada wajah yang tak asing lagi baginya. Ternyata Ayahnya datang menjenguk makam Ibunya.
“Suatu hari, kau akan lelah sendiri dengan tangisanmu itu. Apa Ayah terlalu rumit bagimu? Padahal, Ayah hanya menyarankan, apa jadinya jika kau kesusahan sendiri saat Ayah meninggalkanmu nanti? Kau memang sama seperti Ibumu. Tak banyak bertanya tentang masa depan yang baik bagi perempuan. Kalian banyak mengkhayal. Tak gemar menimbang-nimbang pikiranku, tentang kemungkinan-kemungkinan yang belum pasti dari sekolah tinggi. Kalian hanya mengira dan membayangkan. Apakah sekolah tinggi tidak pula berujung pada mencari pekerjaan? Kalaupun kau masih ingin sekolah, apa biaya hidupmu semakin hari tidak semakin tinggi? Kau dan Ibumu hanya membayangkan pola pikirku layaknya sampah yang tak digubris sedikitpun.”
“Tolonglah Ayah, jangan usik ketenangan Ibu hanya karena Ayah membuat cerita bersambung dari pertikaian ini. Mengapa Ayah tega mengembalikan dua suara di otakku? Apa karena kami perempuan yang hanya bisa diperintah dan menurut? Aku telah memilih jalanku untuk memenuhi harapan Ibu satu-satunya. Perempuan berhak memiliki cita-cita dan intelektualitas. Jangan mengartikan pendidikan hanya sebagai ajang mengumpulkan uang, uang, dan uang, Ayah. Jangan Ayah mengusik ketenangan Ibu di sini.”
“Jangan ada lagi dua suara yang membuat Ibu tidak senang di sini, Ayah. Aku mohon, lepaskan belenggu paradigmaku. Biarkan aku bersekolah. Aku akan membuktikan pada Ayah bahwa keputusanku tidaklah salah. Aku sayang Ayah dan si Mbok. Jika yang Ayah butuhkan adalah hasil dari pilihanku. Tunggulah sebentar lagi.”
“Aku tidak mungkin memberikan pilihan yang akan berdampak buruk untuk hidupmu. Jika kau bekerja itu akan lebih berguna. Karena kau dapat menghasilkan uang. Itu akan  bisa sangat berguna untukmu. Bukan untukku. Jadi semua yang kusarankan padamu itu demi kebaikanmu sendiri.”
Ayah Kenanga tampaknya sulit untuk luluh, sorot mata ayah benar-benar melukiskan kepatenan keputusannya akan masa depan Kenanga. 
“Apa yang dapat kau harapkan dari pendidikan tinggi jika pekerjaan saja masih belum tentu kau dapatkan nantinya, hm? Jangan mengharapkan apa-apa yang masih belum jelas. Aku hanya mengarahkanmu ke masa depan yang sudah jelas wujudnya dengan bekerja!”
“Bekerjalah Kenanga.. Bekerja! Pikirkan apa yang terbaik untuk masa depanmu supaya jelas juntrungnya!”
“Tidak ayah! Tidak!!”
Suara bariton ayah seolah menembus gendang telinga Kenanga. Memaksa Kenanga harus sekuat tenaga menutup kedua telinganya agar tak dapat mendengar lagi suara itu.  Lalu senyap.
Kini ia hanya merasakan embusan angin yang dengan lembut meniup tengkuk lehernya.
“Ibu.. jika saja kau memperhatikan kesehatanmu waktu itu, mungkin kau masih ada di sini. Kau terlalu egois membiarkan penyakit ganas itu mendekam demi pendidikan Kenanga yang belum jelas hasilnya.”
Ditatapnya batu nisan Ibu yang berdiri tegak seakan-akan mengatakan “Tersenyumlah nak. Bahagiamu akan menjadi bahagiaku.”
“Ibu, terimalah sembah sujudku. Aku akan mengingat-ingat pesan Ibu. Bukan berarti karena kita perempuan kita bisa diremehkan. Perempuan juga berhak punya cita-cita dan harapan masa depan. Sekolah tinggi juga bukan halangan bagi kita kaum perempuan.”
Embusan angin yang bertiup lebih kencang membawa jejak ayah yang melenyap seiring dengan mulai menggemanya suara ketiga dalam pikiran Kenanga. Ya. Sepertinya ia telah mengambil keputusan terbaik dari dua suara di otaknya yaitu suara ketiga dari dalam dirinya. [*]

Share on Google Plus

About Teater Sabit

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar