Penyihir Alung

Sudah sepekan lamanya tak terasa waktu telah bergulir. Tak sedetik pun terlintas dalam benakku tentang rasa apa yang menghujam nuraniku setelah kematian Karimah. Bagaiman sepi kini menyergapku. Malam merengkuhku dalam keheningan suasana gubuk reot tempat tinggal kamiaku dan Karimah. Bagimana setiap malam aku selalu mendengar suara dentingan sendok pada gelas seperti yang sudah-sudah dilakukan oleh Karimah jika aku ingin meminum kopi pahit buatannya.
Karimah, wanita yang selalu akrab kupanggil Rimah. Istriku yang bertubuh aduhai, semampai, dan lihai merayu-rayuku dalam urusan belai-membelai. Rimah yang selalu membiusku dengan secangkir kopi pekatnya di tengah himpitan ekonomi yang semakin hari terasa kian mencekik. Namun beruntunglah aku karena Tuhan sempat menyatukannya denganku, sehingga ia lah satu-satunya manusia beradab di muka bumi ini yang selalu dapat menentramkan jiwaku. Tak terkecuali saat Alungpemuda sialan itu yang berusaha mendekati Rimah.
Tak jarang Alung yang melabeli dirinya sebagai dewanya masyarakat itu suka melempar pandang kepada Rimah. Malah Rimah pun tak jarang suka membuang wajahnya demi menghindari tatapan cabul Alung. Sudah gila pria itu. Begitu tukasku setelah Rimah menceritakan bahwa semalam sebelum berangkat ke pengajian di desa sebelah, ia sempat diajak berbucara masalah asmara oleh si Alung. Si Alung ini rupanya sudah berani main api.
Meski aku sudah mulai dibakar api cemburu, namun tak lantas membuatku buta. Ia adalah anak klebun desaku. Belum lagi bagaimana desas-desus warga yang mengatakan bahwa Alung sudah meninggi ke langit. Entah apa maksudnya, hanya aku pernah mendapati Alung pulang mengenakan topi segi lima dan jubah hitam yang persis seperti penyihir. Hiii! Aku bergidik ngeri.
Sejak itu mulai muncul sebuah stereotip bahwa keluarga klebun termasuk Alung mempunyai keturunan dukun! Ah sungguh seram jika seperti itu. Namun miris juga. Aku masih ingat betul bagaimana pak klebun sebelum menjabat, seperti calon pejabat setara kampung lainnya, ia memproklamirkan apa-apa yang dianggapnya bisa terwujud jika warga memilihnya menjadi seorang klebun.
Mas itu si calon klebun kok cerewet sekali ya? Persis pedagang-pedagang di pasar yang sedang menawarkan dagangannya. Rame sekali. Celetuk Rimah.
Ya kalau tidak begitu bagaimana dia bisa orang-orang mau memilihnya jadi klebun? jawabku.
Sama seperti klebun, Alung pun begitu. Akhir-akhir ini dia jadi rutin mengadakan seperti perkumpulan dengan warga desa di teras rumah klebun. Mulutnya terbuka lalu tertutup. Dari berasap kemudian berapi-api hingga semua warga nyaris terbakar. Nyaris tercuci otaknya oleh si penyihir itu.
Saat itu, kata Alung, musim kemarau di desa kami sudah terlalu lama merebak. Sehingga panen padi warga banyak yang mati kekeringan. Sementara itu air irigasi di desa kami juga ikut mengering. Katanya juga, 10 tahun lagi bisa-bisa desa kami akan menjadi desa tak makmur. Lalu dengan segenap raut kebahagiaan pria penyihir itu mengeluarkan sebuah benda aneh yang katanya bisa mencegah dampak buruk itu pada desa kami.
Menakjubkan! Alung bahkan lebih hebat dari seorang penyihir. Pantas saja, masyarakat sering mengatakan bahwa ia sudah melangit. Ternyata memang benar dugaanku. Selain penampilannya kapan hari yang berjubah dan bertopi segi lima seperti penyihir, ternyata Alung juga mempunyai bakat meramal! Sungguh dunia hampir kiamat. Karena pada akhirnya posisi Tuhan yang dianggap Maha mengetahui tergantikan oleh sosok Alung yang sepertinya lebih jitu menebak masa depan desa kami.
Rimah pun begitu. Sepulangnya ia dari perkumpulan si penyihir Alung itu, ia berlari ke gubuk kami sembari tersenyum lebar. Matanya berbinar-binar seperti telah menemukan sebuah mesin pencetak uang agar perekonomian kami jadi makmur. Tubuhnya meliuk-liuk saking merasa bahagianya.
Ada apa? Kau tampak bahagia.
Si Alung yang kau sebut penyihir itu hebat memang! Tadi dengan cepat dia bisa mendatangkan air dari alat kecil yang dia tunjukkan ke kami. Katanya dengan suara yang sangat bahagia dan tak dibuat-buat.
Hebat apanya? Masa kamu mau percaya sama kemampuan penyihir itu dari pada kekuatan Gusti Pangeran? sergahku.Setengah mati aku menahan rasa marah agar Rimah tetap mengatakan segalanya yang telah ia dengar dari penyihir bodong itu.
Astaghfirullah mas. Demi Allah lho, Rimah ngomong gini bukan karena Rimah meragukan kekuatan Gusti Allah. Ya habis gimana, harapan satu-satunya agar panen padi kita berhasil ya dengan alatnya si penyihir Alung itu. Memangnya kamu mau hidup susah terus? Kan uang kita cuma dihasilkan ketika panen padi berhasil! semburnya. Kalem tapi cukup ngena juga di hatiku. Rupa-rupanya si penyihir Alung itu juga punya kekuatan mistis seperti dukun. Bisa mengguna-guna Rimah, sehingga wanita yang mulanya enggan mendekat dengannya kini seperti setengah mati percaya. Tanpa secuil pun keraguan.
Lalu pada hari-hari berikutnya, kemampuan si penyihir Alung semakin menjadi-jadi. Setelah banyak bercuap-cuap di sana sininya desa, warga desa yang tadinya cukup melakukan ritual sholat untuk meminta hujan, kini menjadi beralih harapan berkat kata-kata Alung. Hebat benar pria itu. Entah mantra-mantra apa yang ia semburkan kepada warga di desa sehingga banyak dari mereka yang akhirnya memilih untuk bersekutu dengan penyihir Alung. Penyihir Alung akan memberi peralatan ajaibnya untuk mengganti hujan yang notabene adalah rahmat dari Allah, jika warga mau bersekutu dengannya untuk melawan musim kemarau. Musim kemarau yang adalah juga rahmat dari Allah kini seolah-olah dengan gamblang ditolak oleh warga. Ya itu semua berkat si Alung.
Tidak sampai di situ, Alung pun mempunyai kekuatan super untuk terjun langsung di sawah yang luas bahkan ketika matahari sedang memamerkan sinarnya. Sungguh hebat si Alung! Berbagai cara ia lakukan untuk menambah pengikut. Tapi tidak denganku. Bagiku Alung adalah tetap si penyihir sejak aku melihatnya mengenakan jubah hitam dan topi segi lima. Dia benar-benar penyihir. Aku harus menghentikan langkahnya agar stak semakin menyesatkan warga dari ajaran Allah.
He Alung! tegurku keras saat tak sengaja berpapasan dengan Alung yang sangat senang mengenakan baju berkerah. Jelas dia ingin menghilangkan kesan penyihir, agar seluruh warga semakin yakin dengan kesaktiannya.
Oh mas Imam. Ada apa mas?
Licin sekali mulutnya. Aku harus lebih waspada!
Saya tau kamu punya niat jelek kepada warga di desa ini. Ya, kan? Istighfar kamu istighfar! damprat saya tanpa tiding aling-aling.
Maksudnya mas?
Iya kamu ini berusaha menyesatkan warga kan dengan menghasut warga untuk memuja peralatan ajaibmu itu!
Ajaib? Haha mas Imam ini ada-ada saja. Tangannya yang berusaha merangkulku, dengan sigap kusingkirkan. Aku tidak ingin terpapar guna-gunanya seperti warga yang lain.
Saya cuma mau warga. Ya biar panen mereka tidak gagal lagi. Kan mas tau, masalah utama warga adalah ketakutan kalau gagal panen. Nah saya ada inovasi. Bagaimana kalau alat saya ini dapat menghasilkan air dari sumbernya langsung. Jadi kalau irigasi kering, warga bisa menggunakan alat ini. Ia menunjukkan sebuah benda yang berukuran sedang namun cukup rumit strukturnya. Aku jengah. Kekuatan penyihir Alung memang tiada tara kecuali jika ia dibandingkan dengan Tuhan.
Jangan macam-macam kamu penyihir! Hentikan hasutanmu kepada warga, dan biarkan mereka mensyukuri nikmat musim kemarau yang sejatinya adalah rezeki dari Allah.
Penyihir Alung terbahak. Membuatku yakin bahwa makhluk itu akan sangat susah untuk diingatkan ke jalan yang benar, bahkan di ruqyah sekalipun, tak akan mempan.
Lantas aku membanting peralatan ajaibnya dan menginjak-injak hingga separoh bagian dari peralatan itu hancur. Lalu tanpa segan aku meninggalkan penyihir Alung yang tetap diam terpaku mengamati apa yang baru saja kulakukan. Aku berjihad di jalanmu ya Allah.
Sesampainya di rumah, aku menyaksikan tubuh Rimah terbaring lemah di atas ranjang reyot rumah kami. Samar-samar aku mendengar Rimah yang mendesis sembari memegangi perutnya. Rimah si lincahku, Rimah si cantikku, Rimah istri aduhaiku. Baru beberapa langkah aku hampir mendekati ranjang, tubuh Rimah semakin terkulai lemah, semakin lemah, melemah, lalu diam tak bergerak. Sepertinya tubuhnya melemah akibat seharian kemarin kami sama sekali tak makan nasi.
Kau sudah datang Mam? Rimah. Dia mengalami kecelakaan saat bekerja di sawah. Celetuk Pariam yang tergopoh-gopoh berlari masuk ke rumahku dengan membawa kotak P3K.
Apa yang terjadi?
Peralatan milik Alung. K-kau benar, dia penyihir! Buktinya karena alat itu Rimah jadi sedemikian rupa! tukasnya dengan nafas terengah-engah.
Rimah!
Darah mengucur deras dari perut Rimah dengan tangannya yang masih bersidekap lemah. Sungguh penyihir Alung tak lebih biadab dari seorang pengemis gadungan dengan luka palsu di sekujur tubuh. Penyihir keparat!

Oleh: Ade Vika Nanda Yuniwan

Share on Google Plus

About Teater Sabit

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar