Lakaran

Sungguh, tidak ada yang paham tentang pentingnya pendidikan di desa itu. Bagi warganya, sukses adalah tentang bagaimana seseorang menghasilkan uang bagi keluarganya. Termasuk Hari yang memandang bahwa satu-satunya gambaran sukses adalah uang, terlihat dari semangatnya yang menggebu saat merantau ke luar kota. Wajar saja, Hari adalah pemuda desa yang memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya dan lebih memilih untuk bekerja. Akan tetapi, hal ini tidak berlaku bagi Zaid, pemuda yang merantau ke Surabaya untuk menuntut ilmu di salah satu universitas. Siang itu, Zaid memutuskan untuk pulang ke kampung Lakaran. Rupanya ia telah menyelesaikan Ujian Akhir Semesternya. Ia melintasi jalan setapak di pinggir aliran sungai dekat kebun bambu. Tampaknya ia pulang ke rumah karena sedang libur semester, menyapa beberapa orang yang berpapasan dengannya di jalan, “Mari, Pak, Bu.” Akan tetapi, ekspresinya seketika terkejut ketika berpapasan dengan Hari di penghujung jalan saat akan sampai ke rumahnya. Tatapan Hari seakan tidak ramah dan kata-katanya juga terlampau pedas jika memandang Zaid tengah pulang ke desa.
“Akhirnya kamu pulang juga. Apa uangmu telah habis?”
“Aku pulang bukan untuk menadah bulanan, Har. Aku pulang karena aku rindu keluarga dan ingin bermain bersama anak-anak kampung sini.” Zain menjawab dengan tersenyum dan tanpa rasa tersinggung.
Kalimat-kalimat Hari terkesan menyindir Zaid. Wajar saja, Zaid adalah satu-satunya pemuda desa Lakaran yang bersekolah hingga perguruan tinggi. Ia berniat untuk memajukan pendidikan di desa Lakaran. Banyak tetangga yang kagum dengan semangat pendidikannya, tetapi tidak dengan Hari. Hari cukup memandang Zaid sebagai bagian dari masa lalunya. Ya, masa lalu. Hari dan Zaid dahulunya adalah seorang sahabat waktu SMA, tetapi persahabatan mereka menjadi renggang semenjak Zaid merantau ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas dengan beasiswa. Sedangkan Hari merasa iri dengan nasib mujur Zaid yang bisa berkuliah sedangkan ia tidak. Padahal Hari dan Zaid dikenal sebagai siswa cerdas saat SMA. Sejak saat itu Hari memandang pendidikan sebagai wadah ketidakadilan.
“Ia hanya cari muka karena status mahasiswanya itu, lihatlah penampilannya, tetap lusuh; tak ada bedanya dengan orang-orang yang tak bersekolah tinggi sepertiku. Ia hanya pandai menghabiskan uang daripada menghasilkan uang.”
***
Sore itu terkesan sangat nyaman, angin selepas ashar memang syahdu. Sungai desa Lakaran yang sedianya menyajikan pemandangan indah, sawah terhampar, barisan pohon bambu, suara ricik air, juga anak-anak kecil berlarian mengejar satu sama lain. Zaid merebahkan punggungnya sambil membaca novel, tercetak di sampul sastra klasik terbitan Balai Pustaka rupanya. Tiba-tiba terlihat Hari melintas  di depan rumahnya dengan gerak tubuh yang sedikit acuh menghampiri Zaid sambil memicingkan mata.
“Lama aku tak melihatmu sering pulang, Id?”
“Banyak yang harus kuselesaikan di sana, Har. Agar aku lekas terjun ke masyarakat untuk memulai kehidupanku yang sebenarnya.” Zaid menjawab seakan merendahkan diri dengan status mahasiswanya.
“Buat apa sekolah tinggi-tinggi. Bukankah semua berujung pada mencari pekerjaan? Lihatlah aku, usia bujangku saja sudah dapat menghasilkan uang. Sedangkan kamu, hanya pandai menghabiskan uang. Mengapa kamu tak mau kuajak merantau selepas lulus sekolah dulu? Kita bisa cari uang sama-sama untuk membahagiakan keluarga.”
“Aku ingin berkontribusi perihal pendidikan di desa kita ini, Har. Lihatlah warga Lakaran ini, seakan tak peduli dengan pendidikan tinggi. Aku risau, aku ingin memajukan semangat belajar anak-anak di kampung ini.”
“Ah, nyanyian lama itu sering kudengar, tetapi kenyataannya itulah budaya kita. Lekas lulus SMP atau SMA jika tidak bekerja ya menikah. Aku cukup ragu dengan pendidikan tinggi saat ini. Ketika aku tahu bahwa pendidikan itu lurus, tak mungkin kutemukan banyak berita hadir di teve. Lihatlah tikus-tikus berdasi itu. Bukankah mereka juga telah sarjana? Doktor? Profesor? Ah, tapi wewenangnya disalahgunakan.”
“Itu manusianya, bukan pendidikannya, Har. Apakah kamu pernah mendapat pengajaran demikian selama di sekolah dulu? Itu hanya bentuk keserakahan manusia yang dijemput dengan embel-embel pendidikan. Memang mudah bagi mereka yang tak kuat iman dan komitmen melakukan penghianatan pada rakyat, meskipun latar belakang pendidikannya tinggi. Justru tugas kita lah sebagai pemuda yang akan melakukan pembaharuan. Aku memang tidak terlampau pandai memikirkan mereka yang jauh. Aku ingin memulai dari warga di kampung ini agar sadar pentingnya pendidikan, Har. Akidah dan akhlak juga sudah ditanamkan di sini sejak kecil, bukan?”
Hari menggeleng. Berkali-kali. Kemudian dengan suara lirih ia mengatakan:
“Memang tidak enak menjadi orang miskin. Kalau tidak karena kemiskinan, kamu tidak mungkin mengajukan bantuan negara ketika ingin kuliah, bukan? Mungkin saja jika kamu tak mendapat beasiswa itu akan menerima ajakanku untuk merantau. Bukankah tujuanmu kuliah karena ingin berujung pada uang?”
Zaid membiarkan Hari menuturkan segalanya yang dianggapnya perlu diketahui agar ia tidak serta-merta menyalahkan Hari. Wajahnya yang penuh penguatan itu memanggil rasa ibanya.
“Bukan hanya kamu yang berpikir demikian. Warga di kampung ini beberapa juga bernasib sama sepertimu. Sarjana memang bukan untuk memperlancar aliran kekayaan. Tapi sudahkah kamu berkeinginan ingin bermanfaat bagi warga di kampung ini? Tidak adil rasanya jika kesuksesan hanya kamu artikan dalam bentuk uang, sedangkan  nasib pendidikan di pulau sendiri belum makmur. ”
“Maksudmu?” Sahut Hari seketika sambil mengerutkan dahinya.
“Kamu boleh bekerja untuk keluargamu, Har. Tetapi janganlah kamu racuni pikiran pemuda-pemudi di sini untuk tidak memiliki semangat pendidikan tinggi. Memang kamu pandai mencari uang, tapi apakah uangmu juga bermanfaat bagi sekitarmu? Bukankah hanya sekedar merubah status keluarga dari tiada menjadi berada? Akan sangat baik jika kita sama-sama saling peduli.”
Zaid dan Hari saling bertatapan. Tampaknya Zaid merasa belum berhasil menyakinkan Hari. Ia mungkin merasa seperti itu karena ia tahu bahwa Hari bukanlah orang yang mudah diyakinkan tentang apa saja. Sebelum Zaid melanjutkan penjelasannya, Hari pun segera mendahuluinya.
“Kalau begitu kita bertaruh saja, warga lebih menginginkan uang dan kesejahteraan atau pendidikan. Jika kamu dapat membuat adikku pandai dalam pendidikannya dan termotivasi tentang pentingnya pendidikan, pengakuanmu akan kuterima.” Hari teringat persahabatan masa lalunya seketika, namun ia kalahkan dengan sikap kerasnya menghadapi Zaid.
Hari pun mulai bertaruh pada dirinya sendiri, apakah kesuksesan Zaid ditentukan dengan tingginya tingkat pendidikan. Jika perlu ia boleh dikatakan sukses jika ilmunya dapat mengetuk otak anak-anak di kampungnya agar mau bersekolah hingga tingkat universitas, termasuk adiknya. Namun, Zaid tetap melanjutkan pendidikannya seperti tak terganggu dengan nyinyiran Hari.
***
Semenjak kepulangan Hari dari tanah rantau, semua orang dibuat terheran-heran. Semua saekan mudah untuk dibelinya. Beberapa ajakan pun dilontarkannya dengan ringan. Ia mengajak pemuda-pemuda desa yang telah lulus sekolah SMP dan SMA untuk ikut merantau bersamanya. Akan tetapi tidak dengan Zaid, ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu liburannya dengan mengajak anak-anak di kampungnya untuk turut serta belajar bersama di sebuah gazebo di halaman tetangga. Tak banyak omongan ngotot yang dilontarkannya. Zaid hanya ingin mengajak anak-anak di sekitar rumahnya untuk membacakan dongeng, pewayangan, menyanyi, dan membaca buku-buku sastra anak yang sengaja dibawanya dari asrama mahasiswa.  Tak lupa pula ia bercerita tentang pentingnya pendidikan kepada para tetangga di kampung Lakaran.
Anak-anak di kampung Lakaran tampaknya tak pernah bosan menikmati sajian motivasi dari Zaid. Ia kerap melontarkan kalimat-kalimat yang menjunjung pentingnya pendidikan dan cita-cita kepada anak-anak muda di kampungnya.
“Kesejahteraan bukan hanya uang. Tetapi tidak enak jadi orang kaya tapi tidak memiliki semangat pendidikan. Kemiskinan bukan hambatan. Jadilah orang yang berguna dan bermanfaat. Pendidikan adalah bekal kalian untuk mengarahkan negara ini mau seperti apa. Kalian boleh bercita-cita dalam hidup tapi jangan hanya angan. Jadikan pendidikan kalian sebagai kebutuhan bukan kewajiban.”
Zaid menyadari bahwa mata Hari cukup jeli membaca situasi. Hari bisa saja membalikkan pamor pendidikan yang awalnya penting menjadi sebatas keformalan saja untuk mencari pekerjaan. Akan tetapi masyarakat berkata lain mengenai Zaid. Ia dipandang sebagai simbol perubah paradigma di kalangan orang-orang yang mengenalnya yang jumlahnya tidak sedikit. Sebagai mahasiswa satu-satunya di kampung Lakaran, Zaid adalah harapan warga kampung Lakaran untuk mengajarkan anak-anak mereka belajar tentang dunia.
Pikiran Hari tentang pendidikan mulai terbuka separuh. Jika orang semulia Zaid mengabaikan peluang untuk mengejar kekayaan, pasti peluang yang tak biasa itu akan dilirik oleh warga di kampungnya, termasuk adiknya. Kini adiknya sangat bersemangat pergi ke sekolah. Perubahan positif tentang akademiknya pun mulai terlihat. Hari membaca wajah adiknya nampak seperti Zaid yang tulus persis seperti satu tahun silam ketika mereka masih semangat belajar bersama mengejar cita-cita.
Ia baru sadar bahwa Zaid bukan bagian dari masa lalunya tetapi bagian dari masa depannya. Hari telah dapat membaca pikiran itu setelah Hari merasakan kepenatan dan kelelahan badan yang teramat sangat akibat menggunakan ototnya untuk mengejar uang. Hari pun telah mengakui keberhasilan Zaid memberikan bekal pendidikan penting bagi sekitarnya. Pada mulanya Hari tak ingin berubah haluan, tetapi ia mengaku kalah atas keputusannya bertaruh pada dirinya sendiri. Adik Hari seakan membuka peluang itu lebar-lebar hanya karena ajakannya secara tidak langsung untuk menuntut ilmu selagi masa depannya bisa terselamatkan. Karena itu, agak mengejutkan bagi Zaid ketika Hari dengan yakin mengatakan:
“Jika aku dihadapkan pada sebuah pilihan yang mengatakan bahwa seseorang yang menggunakan ototnya untuk mencari kesuksesan akan lebih berat dibanding dengan yang menggunakan otaknya. Apakah mungkin aku belum terlambat untuk memperbaiki tulang-tulang di tubuhku agar tak lagi merasakan kepenatan akibat menjadi buruh? Kamu juga telah membuktikan perkataanmu melalui adikku. Mungkin ada orang yang mau menuntunku memberanikan diri merubah pola pikir selama ini. Termasuk kau, Id. Hari ini aku memintamu membawa strategi yang ingin kau amalkan agar aku bisa membayar hutangku terhadap cita-citaku. Mohon pengertianmu.”
“Masa lalu kita akan tersambung lagi mulai hari ini. Aku akan dengan bangga merasakan kebersamaan ini persis seperti satu tahun silam, Har.”
Hari menatap Zaid sembari matanya berkaca-kaca. Sejurus kemudian, ia berlari ke rumah dan kembali menatap wajah Zaid dengan perasaan lega. Dua buah buku telah digenggamnya, mengajak Zaid belajar bersama, seperti masa lalunya. Zaid tersenyum. Bangga. [*]
Bangkalan, 25 Oktober 2017

Share on Google Plus

About Teater Sabit

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar